Perbuatan Syirik Yang Membudaya
Ditulis oleh Heri Setiawan di/pada Mei 8, 2007
Perbuatan syirik merupakan sebuah kedzaliman yang sangat besar, tulisan ini saya post dengan harapan supaya kita semua semua terhindar dari dosa yang paling besar yang bisa menggugurkan keimanan seorang muslim.
Berikut ini adalah sedikit contoh dari sekian banyak kemusyrikan yang merajalela di masyarakat kita:
1. Ngalap Berkah Pada Petilasan/Kuburan Kyai atau Wali
Adalah menjadi hal yang membudaya bahkan dianggap peribadatan yang sangat afdhal bahwa pada bulan-bulan atau hari-hari tertentu, misalnya bulan Mulud, menjelang Ramadhan atau bulan-bulan/hari-hari lain. Banyak orang Islam berbondong-bondong dari berbagai tempat ke petilasan-petilasan/ kuburan-kuburan kyai, orang-orang shaleh atau yang dianggap wali. Ini adalah bentuk kesyirikan yang besar…
2. Mencari Kesaktian Lewat AmalanAmalan Dzikir Atau Yang Lainnya
Yang juga membudaya dan menjadi trend disemua lapisan masyarakat, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, bodoh maupun pintar, awam maupun alim, rakyat maupun aparat, “orang yang dianggap ulama” maupun Umara, adalah membekali diri dengan “ngelmu”, kesaktian dan kekebalan.
Ada yang dengan cara-cara klasik kebatinan, baik dengan istilah black magic (ilmu hitam) maupun white magic (ilmu putih). Ada pula yang dengan cara-cara dzikir dan amalan-amalan yang mengandung bacaan-bacaan wirid. Cara yang terakhir ini banyak mengelabuhi umat Islam. Karena seakan-akan Islami dan tidak syirik. Padahal hakikatnya sama: Syirik.
Amalan-amalan dzikir dan wirid itu pada hakikatnya hanya sebagai rumus atau kode untuk membuka hubungan dengan alam Jin. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah maupun para Shahabatnya.
Dengan demikian, penggunaan dzikir dan wirid semacam itu, di samping tidak berdasarkan tuntunan atsar, juga menyimpang dari tujuan beribadah kepada Allah.
Akhirnya menjadi syirik karena dzikir tersebut digunakan untuk meminta sesuatu kepada selain Allah, hal yang hanya menjadi kewenangan Allah saja. Allah berfirman: Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin itu menambahkan rasa takut / dosa kepada manusia. (al-Jin: 6)
3. Meminta Bantuan Kepada Arwah Rasul, Wali Atau Tokoh
Meminta bantuan kepada arwah Rasul, wali atau tokoh-tokoh, ini bukan hanya menjadi kebiasaan dan keyakinan yang membudaya, tetapi bahkan dihidup-hidupkan sebagai kesenian budaya. Sehingga kegiatan itu betul-betul menyatu dan mendarah dagingdalam jiwa dan keyakinan sebagian besar masyarakat.
Dapat disaksikan dibanyak tempat adanya upacara-upacara serta kesenian-kesenian ritual yang berisi kegiatan syaithani ini. Bahkan dalam nyanyian-nyanyian dan senandungnya sering terdengar ungkapan-ungkapan seperti: “Al-madad, al-madad yaRasul”. Artinya: “Bantuan, bantuan wahai Rasul.” Maksudnya meminta bantuan kepada Rasul yang telah wafat. Tentu ini adalah syirik akbar.
Dan peringatan-peringatan maulid Nabi merupakan media yang subur untuk kegiatan- kegiatan semacam ini. Pujian-pujian kepada nabi yang disenandungkan sarat dengan isi kemusyrikan, misalnya:
Wahai lmam para Rasul, wahai sandaranku
Engkau adalah pintu Allah dan gantunganku
Begitu pula bait-bait sesudahnya yang berisi pujian berlebihan hingga mendudukan Rasulullah seperti Tuhan. Subhanallah `amma Yusyrikun.
Kadang ada pula masyarakat yang datang ke kuburan tokoh, lalu katanya dapat berdialog dengan arwah tekoh tersebut untuk meminta bantuan. Padahal yang bersuara adalah jin (setan) dengan memyerupai suara tokoh dimaksud agar manusia terperosok dalam kekafiran.
4. Akik, Sabuk, dan Qur’an Stambul Sebagai Jimat
Ketika akik diyakini memiliki daya magis, atau telah diisi dengan amalan-amatan mantera oleh dukun (atau oleh dukun yang bernama kyai bersorban) hingga akik tersebut diyakini berkekuatan magis. Maka orang masih berkelit dengan argumen- argumen; “Bahkan number kekuatan sebenarnya adalah Allah, sedangkan akik tersebut hanya wasilah raja.” Karenanya orang beranggapan tidak syirik.
Terlebih lagi yang menjadi pialang akik-akik tersebut adalah orang-orang yang dianggap ulama’ atau ahli agama. Sehingga sempurnalah selubung syubhat yang menutupi kemusyrikan tersebut. Begitu pula sabuk yang telah diisi dengan rajah-rajah, hijib-hijib atau mantera-mantera. Pelaku atau pemiliknya adalah pelaku kemusyrikan. Dan pengisi sabuk tersebut adalah dukun yang harus dijauhi, sekalipun berkedok orang yang bersorban.
Tidak berbeda pula dengan Qur’an stambul, sebuah Qur’an (yang biasanya) berukuran kecil mungil dan huruf-hurufnya tidak terbaca kecuali (barangkali) dengan kaca pembesar. Buku yang dibikin menyerupai al-Qur’an dalam ukuran terlalu kecil ini diyakini bisa menolong pemiliknya dari marabahaya.
Mungkin benda yang meyerupai al-Qur’an itu sengaja dibuat oleh WALI-WALI SETAN untuk mengelabuhi manusia supaya mudah terjerumus dalam kemusyrikan. Orang akan berdalih: “Bukankah ini Qur’an? dan bukankah Al Qur’an merupakan obat?”
Nah al-Qur’an sebagai obat disalah artikan maknanya untuk kepentingan jimat. Dan itu adalah syirik.
Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda: Barang siapa yang mengalungkan Tamimah, maka sesungguhnya ia telah Masyrik. (Hadits Shahih)
Tamimah, menurut al-Mundziri artinya untaian kalung yang dipakai guna mengusir penyakit. (Keyakinan terhadap tamimah) ini adalah kejahilan dan kesesatan. Sebab tidak ada sesuatupun yang dapat menghalangi atau menolak apapun kecuali Allah. Menurut Abu as-Sa’adaat:
Tamimah adalah untaian kalung yang dahulu oleh orang Arab dipakaikan kepada anak-anaknya agar terlindungi dari ganguan setan.
Berdasarkan hadits ini, memakai Tamimah atau kalung apa saja untuk tujuan perlindungan diri dari ganguan setan, ganguan roh jahat, penyembuhan penyakit atau tolak bala’, adalah termasuk syirik yang harus diberantas.
Demikianlah beberapa contoh kemusyrikan yang sangat membudaya di tengah masyarakat. Di sana masih banyak contoh-contoh lain yang sangat membelenggu dan mencengkaram keyakinan masyarakat.
Secara garis besar contoh-contoh itu antara lain: menyakini kesialan angka 13, keyakinan jika menabrak kucing maka akan celaka, keyakinan para sopir jika melewati jalan angker harus berpamitan terlebih dahulu kepada yang Mbau rekso tempat angker tersebut dengan membunyikan klakson, keyakinan bahwa tiap malam jum’at kliwon harus memberikan sesajian diperempatan-perempatan jalan, adat istiadat menginjak telor dan segala kegiatan yang mengiringi bagi pengantin, memasang dekorasi dengan tandanan pisang pada pinto masuk halaman dalam pests pengantin, brobosan (melewati bawah) jenazah yang akan diberangkatkan antak di kubur, menyakini kebenaran para dukun dan tiara normal, menyakini bahwa seekor kerbau dapat memberikan berkah, menyakini bahwa pusaka atau kereta keraton dapat memberikan berkah sehingga perlu dimandikan dan airnya dijadikan rebutan, dan berbagai contoh kemusyrikan lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Apabila hal-hal di atas masih membelenggu keyakinan masyarakat, menjadi budaya dan tidak ada upaya untuk memberantasnya, maka umat ini tidak dapat diharapkan akan keluar dari kesulitan-kesulitan dan bencana-bencana. Di dunia akan sengsara dan di akhirat akan binasa.
Penutup
Sebagai penutup, di bawah ini adalah kisah yang harus dijadikan ibrah: Dart Abu Waqit al-Laitsi, ia mengatakan: Kami keluar bersama Nabi untuk berperang ke Hunain, kami waktu itu baru saja meninggalkan kekafiran (baru masuk Islam), sedangkan kaum Musyrikin mmpunyai sebuah pohon Sidrah yang dijadikan tempat i’tihaf (bersemedi) mereka, dan mereka senang menggantungkan senjata-senjata mereka (supaya rnenjadi senjata sakti) pada pohon itu. Pohon itu disebut sebagai pohon yang memiliki keramat.
Kemudian kami melewati pohon itu. Maka kami berkata kepada Rasulullah:
“Ya Rasalullah, buatkanlah untuk kami sesuatu yang dikeramatkan sebagaimana mereka (kaum Musyrikin) mempunyai sesuatu yang dikeramatkan”.
Maka Rasulullah menjawab:
Allahu Akbar, ini merupakan jalan / kebiasaan (yang sadah terjadi sejak dahulu-pen). Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian telah berkata seperti apa yang telah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, yaitu (yang tersebut dalam surat al-A’raf: 138
artinya): ‘Buatkanlah untuk kami berhala sebagaimana mereka mempunyai berhala-berhala. Musa menjawab: Sesungguhnya kalian benar- benar orang yang bodoh”. Sunggah kalian benar-benar mengikuti jalan /kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”
Kisah di atas merupakan kisah yang dapat memberikan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir. Orang harus merasa takut terjerumus dalam kemusyrikan. Sebab orang terkadang menganggap baik terhadap sesuatu dan menyangka sebagai taqarrub kepada Allah, padahal sesuatu itu justru merupakan hal yang paling menjauhkan seseorang dari rahmat Allah, dan paling potensial mendatangkan murka Allah.
Alangkah indahnya jika umat manusia hanya beribadah kepada Allah saja, tidak melakukan kemusyrikan sedikitpun, tidak melakukan penyelewengan-penyelewengan peribadatan dan bersedia meninggalkan kemaksiatan sekecil apapun.
Dinukil dari buku “Contoh-Contoh Kemusyrikan Yang Membudaya” oleh Ahmas Faiz Asifuddin










kurtubi berkata
kemusyrikan dengan berbagai bentuk memang sangat kentara.. di masyarakat… bahkan pemahaman kita tentang musyrik pun tergantung dari sudut yang berlainan…
bahkan apakah benar sombong sendiri juga adalah bentuk dari kemusyikan… salam kenal…
karolina berkata
Apakah beribadah hanya karena ingin mendapatkan pahala berlipat-lipat bukan syirik? karena yang dicari adalah pahala, bukan pengabdian kpd Allah SWT.
retnoarum berkata
@karolina
beribadah mengharap pahala adalah syirik?wah mba mendingan ga usah mikir sejauh itu dech. dalam beribadah mukin sebaiknya kita tdk hanya melulu memikirkan sebesar apa Allah akan memberi pahala.yg jelas kita dituntut untuk beribadah sebaik mungkin,seikhlas mungkin pada Allah.masalah bagaimana Allah akan memberikan pahala kepada kita itu hanya Allah saja yg bisa menilai.
heri setiawan berkata
Beribadah dengan tujuan mendapatkan pahala atau dengan tujuan mendapatkan surga Allah itu boleh2 saja…
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” Ali Imran 145
Rabi’ah bin Ka’ab Al Aslami
Dia berkata, “Aku pernah bermalam di rumah Rasulullah. Disana aku yang membawakan air wudhu dan keperluan2 beliau yang lain. Tiba2 Rasulullah berkata, “Mintalah sesuatu kepadaku!” Lalu aku berkata, “Aku minta agar bisa menjadi temanmu di surga.” “Adakah yang lain?,” tanya beliau. “Itu saja,” jawabku. Lalu Rasulullah berkata, “Bantulah aku dengan cara engkau sering bersujud.” (HR Muslin no 489)
“Umur ini sangat berharga, waktu yang sudah terlewati tidak akan bisa kembali lagi, janganlah kalian rela menukarnya kecuali dengan surga.” (Ibnul Jauzi)
Sebelum menjadi kholifah, Umar bin Abdul Aziz berkata kepada istrinya, “Jiwaku sangat menginginkan kepemimpinan.” Akhirnya Allah wujudkan keinginannya menjadi kholifah. Dan setelah menjadi pemimpin, beliau berkata lagi kepada istrinya, “Jiwaku sangat menginginkan surga.”
Reni berkata
Pengalaman tentang keluarga saya juga seperti ini, saya masih bingung membedakan syirik itu bagaimana, dan syirik itu apa sich..???. dengan mengerjakan solat tepat wktu, mengerjakan zikir atau wirid. kemudian meraskan seolah-olah dalam tubuh ini ada kekuatan supernatural yang bisa membaca pikiran orang lain atau bisa menebak apa yang akan terjadi dan yang sudah terjadi, apa itu juga syirik? dengan beranggapanapa yang didapat itu sebagai MUZIZAT dari ALLAH SWT. Dan sebagian keluarga saya percaya akan hal itu. terkadang saya sudah berpasrah dan minta petujuk kepada yang kuasa Allah SWT kalaw mmg ini syrik atu perbuatan yang melenggar perintahnya mohon diberi petunjuk!!! tapi keadaan yang terjadi malahan semangkin keruh… sebagian keluarga saya percaya. karena memang benar keadaanya. dan keberadaanya. lalu apa itu, jalan apa yang harus saya lakukan agar kluarga saya tidak percaya dengan itu semua. dan mereka sadar yang merka karjakan itu syirik. terkadang lingkungan dan adat sekitar yang membentuk kepercayaan seperti itu. mohon bantuanya. makasih … wassalamv
Heri Setiawan berkata
Setahu saya mu’jizat itu hanya untuk kalangan nabi dan rasul.
Kalau saran saya sendiri sih, Reni tetap jalankan perintah yang telah ditetapkan kepada kaum hawa… Perbanyak shalat, puasa dan juga perbanyak tilawah Qur’an dengan ikhlas dan mengharap ridha Allah. Jangan lupa berhijab dengan sempurna.
Kalau boleh tahu domisili Reni dimana..?
Mungkin Reni bisa konsultasi ke orang alim yang baik di lingkungan Reni.
Untuk masalah keluarga yang percaya, justru itu seharusnya “bisa dimanfaatkan” untuk menasehati keluarga Reni, mengajak keluarga Reni untuk lebih dekat dengan Pencipta mereka. Katakan kepada keluarga Reni kalo Reni tu hanya orang biasa, bukan nabi, bukan juga rasul.
wong bing ung berkata
Banyak beribadah tidak akan menambah ke-Mulia-an Allh, sedikit/tidak beribadah tidak akan mengurangi ke-Mulia-an Allah.
Memaksakan kehendak agar orang lain mengikuti keyakinan kita adalah Syirik.
Keyakinan orang lain yang berbeda, dan menganggapnya sesat adalah perbuatan Syirik.
heri berkata
@Wong Bing Ung
lalu apa bedanya orang yang banyak beribadah dengan orang yang sedikit beribadah..?
kalau memang keyakinan seseorang bertentangan dengan apa yang udah diturunkan, salahkah jika orang itu dikatakan sesat..? seperti halnya seorang yang tidak tahu jalan pulang dikatakan tersesat, jika sudah mengetahui jalannya, maka tidak lagi disebut tersesat…
Abi Farid berkata
Wahai saudaraku seiman, marilah kita mencoba membrantas kumusrikan yang ada di lingkungan kita dengan jalan mengkaji Al Qur’an dan hadits secara benar. jauhilah taqlid buta karena semua muslim berhak untuk mendapatkan ilmu yang sama.
Dan yang lebih penting lagi bagaimana kita belajar untuk merevisi ulang keyakinan kita yang didapat bukan dari qur’an dan Hadits tetapi hanya sebatas kata orang atau ….