<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sebuah Catatan Kecil &#187; Kisah Muallaf</title>
	<atom:link href="http://awansx.wordpress.com/category/tarbiyah/kristologi/kisah-muallaf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://awansx.wordpress.com</link>
	<description>We are agree that Knowledge is FREE...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Jun 2009 05:52:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='awansx.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/1019b681f70d04eecbf78f797b2d85a9?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sebuah Catatan Kecil &#187; Kisah Muallaf</title>
		<link>http://awansx.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Gene Netto : Mencari Tuhan menemukan Allah</title>
		<link>http://awansx.wordpress.com/2007/06/24/gene-netto-mencari-tuhan-menemukan-allah/</link>
		<comments>http://awansx.wordpress.com/2007/06/24/gene-netto-mencari-tuhan-menemukan-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jun 2007 10:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kristologi]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhwan.wordpress.com/2007/06/24/gene-netto-mencari-tuhan-menemukan-allah/</guid>
		<description><![CDATA[Nama saya Gene Netto, sejak tahun 1995 saya telah menetap di Jakarta, Indonesia, dan pada saat saya bertemu dengan orang baru, mereka selalu penasaran tentang latar belakang saya. Mereka ingin tahu tentang bagaimana saya bisa belajar bahasa Indonesia dengan baik, pindah ke Indonesia dan akhirnya masuk Islam. Lewat bab ini, saya ingin menjelaskan latar belakang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=74&subd=awansx&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://mualaf.com/modules.php?name=Your_Account&amp;op=userinfo&amp;username=admin"></a><a href="http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;new_topic=3"><img src="http://mualaf.com/images/topics/mualaf.gif" alt="Kisah Mualaf" align="left" border="0" /></a>Nama saya Gene Netto, sejak tahun 1995 saya telah menetap di Jakarta, Indonesia, dan pada saat saya bertemu dengan orang baru, mereka selalu penasaran tentang latar belakang saya. Mereka ingin tahu tentang bagaimana saya bisa belajar bahasa Indonesia dengan baik, pindah ke Indonesia dan akhirnya masuk Islam. Lewat bab ini, saya ingin menjelaskan latar belakang diri saya dan bagaimana caranya saya menjadi tertarik pada Islam.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Masa kecil dan mencari tuhan</strong></p>
<p>Saya lahir di kota Nelson, sebuah kota kecil di Pulau Selatan di Selandia Baru (<em>New Zealand</em>) pada tanggal 28 April, tahun 1970. Bapak dan ibu saya bertemu di Nelson, menikah dan mendapat tiga anak; saya nomor dua. Bapak berasal dari Birma (yang sekarang dinamakan Myanmar) dan setelah Perang Dunia II, kakek saya pindah ke Selandia Baru.</p>
<p>Ibu lahir di Selandia Baru dan leluhurnya adalah orang Inggris dan Irlandia. Ibu dibesarkan di sebuah perternakan domba dan sapi di pulau selatan Selandia Baru.<br />
<span id="more-74"></span><br />
Pada usia kecil saya sudah merasa kurang betah di Selandia Baru. Keluarga saya beragama Katolik dan Ibu saya berkulit putih tetapi saya masih merasa berbeda dengan orang lain. Kakak dan adik saya mendapatkan mata biru dan rambut coklat yang membuat mereka lebih mirip dengan orang berkulit putih yang lain. Tetapi mata saya berwarna coklat-hijau dan rambut saya hitam, dan hal itu memberi kesan bahwa saya bukan orang berkulit putih asli. Jadi, saya orang mana? Orang barat? Atau orang Asia? Saya sudah mulai merasa tidak betah dan oleh karena itu saya berfikir banyak tentang dunia dan siapa diri saya.</p>
<p>Saya membesar terus dan berfikir terus tentang berbagai macam hal, terutama tentang agama, dunia dan alam semesta. Seringkali saya melihat bintang dan dalam kesunyian larut malanm saya berfikir tentang luasnya alam semesta dan bagaimana diciptakan. Dari umur 9 tahun saya mulai membaca buku tentang agama dan topik serius yang lain. Saya ingin tahu segala-galanya: agama, dunia, budaya, sejarah, alam semesta… semuanya! Seingat saya, hanya saya yang tertarik pada dinosaurus pada usia itu. Teman-teman saya yang lain tidak mau tahu tentang dinosaurus karena saat itu film <em>Jurassic Park</em> belum muncul. Hanya saya yang sering membaca tentang topik serius seperti pembuatan piramida, agama Buddha dan Hindu, sejarah dunia, luasnya alam semesta dan sebagainya.</p>
<p>Seperti anak kecil yang lain, saya juga diajarkan agama oleh orang tua saya, karena mereka sebelumnya juga diajarkan oleh orang tua mereka. Di dalam ajaran agama Katolik ada banyak hal yang membingungkan saya. Setiap saya bertanya tentang Tuhan dan agama Kristen, saya seringkali mendapat penjelasan yang tidak memuaskan. Saya menjadi bingung dengan konsep Trinitas, di mana ada Tuhan, Yesus, dan Roh Kudus, dan semuanya Tuhan tetapi Tuhan hanya satu. Tuhan menjadi manusia, dan manusia itu mati, tetapi Tuhan tidak bisa mati, tetapi manusia itu adalah Tuhan. Saya menjadi bingung dengan pastor yang mengampuni dosa orang dengan mudah sekali tanpa bicara kepada Tuhan terlebih dahulu.</p>
<p>Bagaimana kalau pastor salah dan dosa saya belum diampuni? Apakah saya bisa mendapatkan bukti tertulis dari Tuhan yang menyatakan bahwa saya sudah bebas dari dosa? Bagaimana kalau saya bertemu dengan Tuhan di hari akhirat dan Dia menyatakan bahwa dosa saya belum diampuni? Kalau saya berprotes dan menunjuk pastor yang meyakinkan saya bahwa tidak ada dosa lagi, Tuhan cukup bertanya “Siapa menyuruh kamu percaya pada omongan dia?” Siapa yang bisa menyelamatkan aku kalau pastor keliru dan dosa aku tetap ada dan dihitung oleh Tuhan?</p>
<p>Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mendapatkan penjelasan tentang semua hal yang membingungkan saya. Akhirnya jalan keluar menjadi jelas: saya harus bicara empat mata dengan Tuhan! Hanya Tuhan yang bisa menjawab semua pertanyaan saya.</p>
<p>Pada suatu hari, saya menunggu sampai larut malam. Saya duduk di tempat tidur dan berdoa kepada Tuhan. Saya menyuruh Tuhan datang dan menampakkan diri kepada saya supaya saya bisa melihat-Nya dengan mata sendiri. Saya menyatakan bahwa saya siap percaya dan beriman kepada Tuhan kalau saya bisa melihatnya sekali saja dan mendapatkan jawaban yang benar dari semua pertanyaan saya. Kata orang, Tuhan bisa melakukan <em>apa saja</em>! Kalau benar, berarti Tuhan juga bisa muncul di kamar saya pada saat disuruh muncul. Saya berdoa dengan sungguh-sungguh dan menatap jendela di kamar, menunggu cahaya Tuhan masuk dari luar.</p>
<p>Saya menunggu lama sekali. Sepuluh minit. Lima belas minit. Mana Tuhan? Kata orang, Tuhan Maha Mendengar, berarti sudah pasti mendengarkan saya. Saya menunggu lagi. Melihat jendela terus. Menunggu lagi. Kenapa Tuhan belum datang? Barangkali Dia sibuk? Kena macet? Saya melihat jendela lagi. Setelah menunggu sekian lama dan benar-benar memberi kesempatan kepada Tuhan untuk muncul. Tetapi Tuhan ternyata sibuk pada malam itu dan Dia tidak hadir.</p>
<p>Hal itu membuat saya bingung. Bukannya saya sudah berjanji bahwa saya akan percaya kepada-Nya kalau Dia membuktikan bahwa Diri-Nya benar-benar ada? Kenapa Dia tidak mau menampakkan Diri kepada saya? Bagaimana saya bisa percaya kalau saya tidak bisa melihat-Nya? Saya menangis dan tidur. Besoknya saya berdoa lagi dengan doa yang sama. Hasilnya pun sama: Tuhan tidak datang dan saya menangis lagi.</p>
<p>Ini merupakan contoh logika seorang anak kecil. Dalam pengertian seorang anak, apa yang tidak terlihat, tidak ada. Apalagi sesuatu yang begitu sulit didefinisikan seperti konsep “tuhan”. Pada saat itu, terjerumus dalam kebingungan, saya memutuskan untuk tidak percaya kepada Tuhan dan menyatakan diri “ateis” (tidak percaya kepada tuhan mana saja). Saya memberitahu kepada Tuhan bahwa saya sudah tidak percaya kepada-Nya. Dan saya memberitahu Tuhan bahwa Dia memang tidak ada dan semua orang yang percaya kepadanya adalah orang bodoh saja yang hanya membuang waktunya. (Dalam kata lain, saya <em>ngambek</em> terhadap Tuhan.) Di dalam hati, saya berbicara kepada Tuhan dengan suara yang keras supaya Dia bisa mendengar dengan jelas pernyataan saya bahwa Tuhan tidak ada!</p>
<p>Pada hari-hari yang berikut, saya memberi waktu kepada Tuhan untuk datang dan minta maaf karena tidak sempat datang dan menampakkan diri pada hari sebelumnya. Saya sudah membuat pernyataan yang jelas. Tuhan semestinya mendengar pernyataan saya itu dan memberi tanggapan. Tetapi tidak ada tanggapan dari Tuhan. Akhirnya saya mencapai kesimpulan bahwa Tuhan itu memang tidak ada. Sudah terbukti. Kalau ada Tuhan, Dia pasti akan mendengar doa saya dan menampakkan diri. Kenyataan bahwa Tuhan tidak menampakkan diri membuktikan bahwa Tuhan tidak ada!</p>
<p>Saya bersekolah terus dan sembunyikan kenyataan bahwa saya tidak percaya kepada Tuhan. Kalau ada yang menanyakan agama saya maka saya menjawab “Katolik” saja. Selama SD, SMP, dan SMA saya belajar terus tentang dunia tetapi sudah malas mempelajari agama secara serius, kecuali untuk mencari kekurangannya, karena saya menanggap agama itu sesuatu yang membuang waktu saja tanpa membawa hasil. Kebetulan, setelah lulus SMA, orang tua saya memutuskan untuk berpindah ke Australia. Kebetulan, saya memutuskan untuk ikut juga daripada tetap di Selandia Baru.</p>
<p>Di Australia, saya berusaha untuk masuk kuliah Psikologi di Universitas Queensland pada tahun 1990. Saya mau menjadi seorang psikolog anak. Kebetulan, lamaran saya itu tidak diterima karena nilai masuk saya kurang tinggi. Sebagai pilihan kedua, saya ditawarkan kuliah Pelajaran Asia di Universitas Griffith. Di Australia, seorang siswa yang tidak diterima di fakultas pilihan pertamanya, akan ditawarkan fakultas atau universitas yang lain. Setelah satu tahun, dia bisa pindah kembali ke pilihan pertamanya asal nilainya bagus. Kebetulan, saya menerima tawaran untuk masuk Fakultas Pelajaran Asia dengan niat akan pindah ke Fakultas Psikologi setelah satu tahun.</p>
<p>Kebetulan, di dalam Fakultas Pelajaran Asia pada tahun pertama semua siswa wajib mengambil mata kuliah Bahasa Asia. Ada pilihan Bahasa Jepang, Cina, Korea, dan Indonesia. Kebetulan, saya memilih Bahasa Indonesia karena sepertinya paling mudah dari yang lain. Saya hanya perlu mengikuti mata kuliah itu selama satu tahun saja jadi sebaiknya saya mengambil yang termudah. Kebetulan, dalam waktu enam bulan, nilai saya sangat baik, termasuk yang paling tinggi.</p>
<p>Tiba-tiba kami diberitahu ada 3 beasiswa bagi siswa untuk kuliah di Indonesia selama 6 bulan. Saya tidak mengikuti seleksi karena berniat pindah fakultas pada akhir tahun. Tiga teman dipilih. Kebetulan, salah satunya tiba-tiba menyatakan ada halangan dan dia tidak bisa pergi ke Indonesia. Proses seleksi dibuka lagi. Ada seorang dosen yang memanggil saya dan bertanya kenapa tidak mengikuti seleksi dari pertama kali. Saya jelaskan niat saya untuk pindah fakultas pada akhir tahun pertama.</p>
<p>Dia menyatakan “Gene, kemampuan kamu dalam bahasa Indonesia sudah kelihatan. Kenapa kamu tidak teruskan saja Pelajaran Asia. Dalam waktu 2 tahun kamu sudah selesai. Belum tentu kamu senang di bidang psikologi, tetapi sudah jelas bahwa kamu ada bakat bahasa. Coba dipikirkan kembali.”</p>
<p>Akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan pelajaran saya di Fakultas Pelajaran Asia itu dan mengikuti proses seleksi untuk beasiswa tersebut. Kebetulan, setelah proses selesai, saya dinyatakan menang dan akan diberangkatkan ke Indonesia pada tahun depan (1991). Sekarang saya menjadi lebih serius dalam pelajaran saya karena sekarang ada tujuan yang lebih jelas.</p>
<p><strong><br />
Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor.</strong></p>
<p>Pada suatu hari diadakan acara <em>barbeque</em> (makanan panggang) untuk Klub Indonesia. Semua orang Indonesia di kampus diundang untuk bergaul dengan orang Australia yang belajar tentang Indonesia. Pada saat saya sedang makan, ada orang Indonesia yang datang dan kebetulan dia duduk di samping saya. Dia bertanya “Kamu Gene, ya?” Ternyata dia pernah dengar tentang saya dari seorang teman. “Apakah kamu pelajari agama Islam, Gene?” Saya jelaskan bahwa memang ada mata kuliah tentang semua agama di Asia termasuk agama Islam. “Apakah kamu juga tahu bahwa dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa? Tidak ada pendeta atau pastor yang boleh mengampuni dosa orang!”</p>
<p>Saya begitu kaget, saya berhenti makan dengan <em>hotdog</em> di tengah mulut. Saya suruh dia menjelaskan lebih mendalam lagi. Ini bukan sebuah kebetulan! Inilah sebuah jawaban yang telah saya cari selama 10 tahun. Di dalam Islam hanya Tuhan yang berhak mengampuni dosa. Apakah mungkin di dalam agama Islam ada logika dan ajaran yang bisa saya terima? Apakah mungkin ada agama yang benar di dunia ini? Dari semua kebetulan yang membawa saya ke titik itu, tiba-tiba semuanya terasa sebagai sesuatu yang terencana, dan sama sekali tidak terjadi secara tidak sengaja. Yang saya lihat adalah serangkaian kebetulan yang membawa saya ke kampus itu dan bahasa Indonesia. Tetapi dari pandangan orang yang percaya kepada Allah, tidak ada kebetulan sama sekali di dunia ini!</p>
<p><strong><br />
Masuk Islam</strong></p>
<p>Dari saat itu saya mulai mempelajari dan menganalisa agama Islam secara mendalam. Saya mulai membaca buku dan mencari teman dari Indonesia yang beragama Islam. Secara pelan-pelan saya mempelajari Islam untuk mencaritahu apakah agama ini benar-benar masuk akal atau tidak.</p>
<p>Pada tahun 1991, saya dan dua teman kuliah menjalankan beasiswa untuk kuliah di Indonesia. Saya belajar di Universitas Atma Jaya di Jakarta dan kedua teman yang lain itu dikirim ke Salatiga dan Sulawesi. Pada saat saya di Atma Jaya (sebuah universitas Katolik), sebagian besar teman saya adalah orang Islam. Kenapa bisa begitu? Memang ada orang Islam yang kuliah di Atma Jaya, dan saya merasa sudah paham semua kekurangan yang ada di dalam agama Kristen, jadi saya tidak tertarik untuk bergaul dengan orang yang beragama Kristen. Saya lebih tertarik untuk menyaksikan agama Islam dan pengikutnya dan oleh karena itu saya menjadi lebih dekat dengan beberapa orang yang beragama Islam. Kalau ada teman yang melakukan sholat, saya duduk dan menonton orang itu dan memikirkan tentang apa yang dia lakukan dan kenapa.</p>
<p>Pada saat kembali ke Australia setelah 6 bulan di Jakarta, saya menjadi salah satu siswa yang bahasa Indonesianya paling lancar di kampus. Oleh karena itu, saya sering bergaul dengan orang Indonesia. Secara langsung dan tidak langsung saya pelajari agama Islam terus. Saya membaca buku dan berbicara dengan orang Indonesia di mana-mana. Setelah selesai kuliah <em>Bachelor of Arts</em>, saya mengambil kuliah tambahan selama satu tahun di fakultas pendidikan untuk menjadi guru bahasa. Pada saat yang sama saya mengikuti seleksi untuk beasiswa kedua, kali ini dari Perkumpulan Wakil Rektor Australia (<em>Australian Vice Chancellors Committee</em>). Beasiswa ini hanya untuk satu orang per bagian negara dan, kali ini, saya bebas memilih lokasi kuliah di Indonesia.</p>
<p>Sekali lagi, saya terpilih, dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah satu tahun di Universitas Indonesia. Setelah selesai kuliah tambahan di Fakultas Pendidikan, Universitas Griffith, pada tahun 1994 saya berangkat sekali lagi ke Jakarta untuk belajar di Fakultas Sastra di UI. Selama satu tahun di UI, seperti waktu saya ada di Atma Jaya, saya bergaul terus dengan orang Islam.</p>
<p>Pada bulan Februari, tahun 1995, saya duduk sendiri di lantai pada tengah malam dan menonton shalat Tarawih, tayangan langsung dari Mekah. Saya melihat sekitar 3-4 juta orang melakukan gerakan yang sama, menghadap arah yang sama, mengikuti imam yang sama, berdoa dengan ucapan yang sama, berdoa kepada Tuhan yang sama. Saya berfikir: Mana ada hal seperti ini di negara barat? Orang yang berkumpul untuk pertandingan bola yang paling hebat di dunia cuma beberapa ratus ribu. Tidak pernah ada orang sebanyak ini berkumpul si suatu tempat untuk menonton bola, mengikuti suatu pertandingan, atau bahkan mendengarkan Paus bicara. Ini benar-benar luar biasa! Dan tidak ada tandingnya.</p>
<p>Selama satu tahun itu saya teruskan pelajaran agama saya. Tidak secara formal atau serius, tetapi dengan memantau dan mencermati. Kalau ada ceramah agama di TV, dari Kyai Zainuddin MZ atau Kyai Anwar Sanusi dan sebagainya, maka saya mendengarkannya dan memikirkan maknanya. Dan secara pelan-pelan saya mendapatkan ilmu agama dari berbagai macam sumber. Pada akhir tahun 1995 itu saya sudah merasa sulit untuk menolak agama Islam lagi.</p>
<p>Tidak ada yang bisa saya salahkan dalam ajaran agama Islam karena memang Islam didasarkan logika. Semua yang ada di dalam Islam mengandung logika kalau kita mau mencarinya. Apa boleh buat? Saya mengambil keputusan untuk masuk Islam. Akan tetapi, saya seharusnya kembali ke Australia dan mengajar di sekolah di sana. Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mempelajari agama Islam di sana? Ada masjid di mana? Dari mana saya bisa mendapatkan makanan yang halal? Dari mana saya bisa mendapatkan guru agama?</p>
<p>Sepertinya saya akan sulit hidup sebagai orang Islam kalau harus hidup di luar negeri. Kalau saya mau menjadi orang Islam dengan benar maka saya harus menetap di Indonesia untuk belajar. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menetap di Indonesia dan masuk Islam.</p>
<p>Saya kembali ke Australia dan pamit dengan orang tua. Saya memberitahu mereka bahwa saya mau kerja di Indonesia untuk beberapa waktu. Ibu berpesan: “Silahkan kembali ke Indonesia, tapi jangan masuk Islam, ya?” Dari pandangan orang barat, Islam tidak bagus jadi wajar kalau Ibu menyuruh saya untuk menjahui sesuatu yang dianggap buruk. Saya lupa kapan saat persisnya saya memberitahu orang tua bahwa saya sudah masuk Islam. Kalau tidak salah, saya sudah kembali ke Indonesia, mendapatkan pekerjaan, masuk Islam, dan sudah mulai sholat, sebelum saya memberitahu mereka. Tentu saja mereka menanggap bahwa saya kehilangan akal. Tetapi alhamdulillah, mereka masih berbuat baik kepada saya. Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. Hanya saja saya dianggap “gila”. Tidak apa apa. Nabi Muhammad (s.a.w.) juga dianggap “gila” oleh kaum Quraisy jadi saya tidak boleh sakit hati karena sebenarnya enak kalau bisa masuk kategori yang sama dengan Nabi (s.a.w.)</p>
<p>Sejak tahun 1995, saya telah menetap di Jakarta dan bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris. Saya belum ada niat untuk kembali hidup di tengah-tengah orang kafir. Saya berniat untuk menetap di sini terus (selama belum diusir) dan mempelajari agama Islam dengan sebaik-baiknya. Banyak orang asing menanggap saya aneh karena mau menetap di negara yang miskin, kotor, penuh dengan korupsi dan sebagainya. Mereka itu memiliki pandangan yang keliru. Komentar mereka benar, tetapi saya juga melihat masjid, orang yang sholat, adzan, Al Qur&#8217;an di rumah orang, makanan yang halal, anak-anak yang tidak mau bezina atau menjadi mabuk, dan banyak hal yang lain yang jauh lebih besar manfaatnya. Oleh karena itu, semua kekurangan yang disebut-sebut oleh orang kafir itu menjadi tidak bermakna dan kurang terasa. Keindahan Islam bisa menutupi semua kekurangan yang diciptakan oleh manusia di negara ini.</p>
<p>Dan alhamdullilah, di sini saya mendapatkan teman-teman yang terbaik di dunia. Belum pernah saya mendapatkan teman seperti teman yang saya jumpai di sini. Bagi saya, persahabatan mereka adalah suatu hal yang sangat nikmat, apalagi saya harus tinggal di sini tanpa keluarga. Karena takut memalukan mereka, saya tidak akan sebutkan namanya. Semuanya memiliki kedudukan sebagai saudara di dalam hati saya. Mereka yang membantu saya sehari-hari untuk selalu ingat kepada Allah dan tidak menyimpang dari jalan yang benar. Mereka yang menjadi contoh konkret bagi saya tentang kehidupan seorang Muslim. Mereka yang menggantikan keluarga yang menganggap saya gila, karena teman-teman ini justru bangga dengan usaha saya untuk menjadi orang yang beriman. Sering ada orang bertanya “Kenapa kamu tidak pulang ke Australia dan berdakwa di sana?” Jawabannya adalah: belum tentu di sana ada orang yang mau mendengar kalau saya bicara, tetapi di sini, justru banyak yang tertarik karena jarang ada orang bule yang masuk Islam, menetap di sini dan bisa berbahasa Indonesia. (Secara kebetulan!) Saya juga tidak mau kembali ke sana karena dengan demikian, saya harus tinggalkan teman-teman saya di sini dan juga guru-guru agama saya. Semoga semua yang mereka lakukan untuk membantu saya belajar agama dibalas Allah swt. karena saya sama sekali tidak sangup menjadi orang baik tanpa bantuan terus dari mereka.</p>
<p>Semoga sisanya dari buku ini adalah sesuatu yang menarik bagi anda yang membacanya. Semoga lewat tulisan ini, semua yang saya pahami sebagai seorang Muslim di Indonesia akan menjadi bahan pikiran untuk kita semua. Perjuangan saya dari luar negeri sampai masuk Islam dan menetap di sini adalah sebagian dari rencana Allah. Saya belum tahu kenapa Allah membawa saya ke Indonesia dan memberi saya kelancaran dalam bahasa Indonesia. Apakah semua itu hanya untuk diri saya sendiri? Atau apakah ada tujuan Allah yang lebih luas yang belum saya pahami? Apa yang Allah inginkan dari saya? Apa yang bisa saya lakukan untuk ummat Islam dan Allah sebagi balasan terhadap semua nikmat yang telah Allah berikan kepada saya?</p>
<p>Barangkali, lewat buku ini, ada beberapa hamba Allah yang akan mulai memikirkan Islam dengan cara baru. Barangkali akan ada beberapa orang yang menjadi lebih dekat kepada Allah setelah membaca dan memahami pikiran saya. Saya bukan seorang ustadt. Saya bukan ahli agama. Yang bisa saya berikan kepada ummat Islam untuk membantu kita semua menjadi ummat teladan di dunia hanya sebatas komentar saja. Barangkali Allah memberikan saya kehidupan sampai sekarang supaya saya bisa bicara kepada anda lewat buku ini. Insya Allah ada tujuan Allah yang membawa hikmah buat ummat Islam lewat komentar saya ini. Saya juga mohon Allah mengangkat semua sifat sombong dan takkabur dari hati saya dan menjadikan saya seorang hamba Allah yang bermanfaat bagi Allah dan bermanfaat bagi ummat Islam. Amin amin ya robbal alamin.  Semoga menjadi rahmat bagi kita semua.</p>
<p>yang bersangkutan Mr. Genne Netto tinggal di Jakarta, saat ini telah menjadi anggota milist <a href="mailto:mualafindonesia@yahoogroups.com">mualafindonesia@yahoogroups.com</a> bergabung dengan yang lainnya dalam membantu mualaf dan calon mualaf …  Blogs ybs <a href="http://genenetto.blogspot.com/">http://genenetto.blogspot.com</a></p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=412" title="muallaf.com" target="_blank">http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=412 </a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/awansx.wordpress.com/74/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/awansx.wordpress.com/74/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/awansx.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/awansx.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/awansx.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/awansx.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/awansx.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/awansx.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/awansx.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/awansx.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/awansx.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/awansx.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=74&subd=awansx&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://awansx.wordpress.com/2007/06/24/gene-netto-mencari-tuhan-menemukan-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b36ffe42a4e10241db2bfdb385591653?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mualaf.com/images/topics/mualaf.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Kisah Mualaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yahya Yopie dan Keluarganya, Mantan Pendeta Yang Memeluk Islam</title>
		<link>http://awansx.wordpress.com/2007/06/15/yahya-yopie-dan-keluarganya-mantan-pendeta-yang-memeluk-islam/</link>
		<comments>http://awansx.wordpress.com/2007/06/15/yahya-yopie-dan-keluarganya-mantan-pendeta-yang-memeluk-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jun 2007 09:57:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kristologi]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhwan.wordpress.com/2007/06/15/yahya-yopie-dan-keluarganya-mantan-pendeta-yang-memeluk-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Warga di kota Tolitoli di penghujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Bahkan media internet pun sudah mengakses kabar ini. Bagaimana aktivitas eks pendeta itu setelah memeluk Islam. Berikut kisahnya:
PAGI menjelang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=72&subd=awansx&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;new_topic=3"><img src="http://mualaf.com/images/topics/mualaf.gif" alt="Kisah Mualaf" align="left" border="0" /></a>Warga di kota Tolitoli di penghujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Bahkan media internet pun sudah mengakses kabar ini. Bagaimana aktivitas eks pendeta itu setelah memeluk Islam. Berikut kisahnya:</p>
<p>PAGI menjelang siang hari itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap seperti biasa.</p>
<p><span id="more-72"></span>Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari warga berjalan seperti biasa. Kecuali di salah satu rumah kost di jalan itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya tinggal sementara.</p>
<p>“Pak Yahya bersama istrinya baru saja keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang. Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak sulit ketemu beliau,” jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada Radar Sulteng.</p>
<p>Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.</p>
<p>Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.</p>
<p>Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006.</p>
<p>Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga, Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.</p>
<p>Hari pertama Yahya pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran, gorden dan kursi. Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga barang yang bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.</p>
<p>Tidak lama menunggu di rumah Ibu Ani, datang dua orang ibu-ibu yang berpakaian dinas pegawai negeri sipil. Keduanya juga mampir di rumah Ibu Ani. Salah satu dari mereka adalah Hj Nurdiana, pegawai di Balitbang Diklat, Pemkab Tolitoli. Ibu berjilbab ini ternyata guru mengaji. Dia adalah guru mengaji yang khusus membimbing istri Yahya.</p>
<p>“Saya baru tiga kali pertemuan dengan ibu Yahya. Supaya ibu Yahya mudah memahami huruf hijjaiyah, saya menggunakan metode albarqy. Alhamdulillah sekarang sedikit sudah bisa,” kata Nurdiana.</p>
<p>Menurutnya, dia tidak kesulitan mengajari ibu Yahya. Malah, katanya, ibu Yahya cepat sekali memahami huruf-huruf hijaiyah yang diajarkan. Karena itu dia memperkirakan kemungkinan dalam waktu tidak lama ibu Yahya sudah bisa lancar mengaji.</p>
<p>Hanya sekitar 20 menit menunggu di rumah ibu Ani, bunyi kendaraan sepeda motor butut milik Yahya terdengar memasuki halaman rumah kontrakannya. Radar Sulteng diterima dengan senang hati, lalu dipersilakan duduk di sofa. Sementara Yahya memilih duduk di lantai alas karpet. Badannya disandarkan ke kursi sofa. “Kita lebih senang duduk di bawah sini,” tuturnya dengan logat kental Manado.</p>
<p>Cara duduk Yahya, tampak tidak tenang. Sesekali ia membuka kedua selangkangnya. Ternyata karena baru beberapa hari selesai disunat. “Setelah tiga hari saya masuk Islam, saya langsung minta disunat di rumah ini,” cerita Yahya, sesekali disertai canda.</p>
<p>Penataan interior rumah kost Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak terpampang kaligrafi ayat kursi yang dibingkai dengan warna keemasan. Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran. “Rumah ini saya kontrak sementara. Saya sudah bayar Rp2,5 juta,” rinci Yahya.</p>
<p>Di tengah asiknya bercerita, istri Yahya, Mutmainnah menyuguhkan beberapa cangkir teh panas. “Silakan diminum air panasnya,” kata ibu tiga anak ini yang saat itu mengenakan jilbab cokelat.</p>
<p>Tidak lama kemudian, dia masuk di salah satu kamar dan mengajak guru mengajinya Hj Nurdiana bersama rekannya. Dari balik kamar itulah terdengar suara Mutmainnah yang sedang mengeja satu per satu huruf hijaiyah. Terdengar memang masih kaku, tetapi berulang-ulang satu per satu huruf-huruf Alquran itu dilafalkannya.</p>
<p>Lain halnya dengan suaminya, Yahya. Pria kelahiran Manado ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh Komarudin Sofa. Selain Komarudin, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani. “Hanya lima menit saya diajarkan. Saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal,” ujar Yahya.</p>
<p>Selain belajar mengaji dan menerima tamu, aktivitas Yahya juga kerap menghadiri undangan di beberapa masjid. Tidak hanya dalam kota, tetapi sampai ke desa-desa di Kabupaten Tolitoli. “Saya ditemani beberapa orang. Ada juga dari Departemen Agama,” katanya.</p>
<p>Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. “Hari itu saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun Pak Komarudin,” cerita Yahya. Apa yang melatari sampai Yahya dan keluarganya memeluk Islam.</p>
<p>PAK Yahya, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal. “Saya tidak perlu cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,” tukasnya.</p>
<p>Lantaran kenakalannya itulah mungkin, sehingga beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya. “Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.</p>
<p>Postur tubuhnya memang tampak mendukung. Tinggi dan tegap. Meski ia pernah nakal, tetapi pendidikan formalnya sampai ke tingkat doktor. Ia menyandang gelar doktor teologi jurusan filsafat. Saat ditemui, Yahya memperlihatkan ijazah asli yang dikeluarkan Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado tertanggal 10 Januari 2004. Sehingga titel yang didapatnya pun akhirnya lengkap menjadi Dr Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH.</p>
<p>Sebelum menyatakan dirinya masuk Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.</p>
<p>“Kepada saya si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali dengan saya,” cerita Yahya.</p>
<p>Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam.</p>
<p>Pertemuan ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah. “Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya,” cerita Yahya, yang ditemui di rumah kontrakannya.</p>
<p>Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.</p>
<p>Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red), tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. “Malah saya dianggap sudah gila,” katanya.</p>
<p>Tidak lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar,” ujar Yahya mengisahkan.</p>
<p>Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.</p>
<p>“Setelah saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” cerita Yahya.</p>
<p>Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar, dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya, Mutmainnah.</p>
<p>“Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis. Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk saya,” tutur Yahya.</p>
<p>Ternyata tangisan istri Yahya itu mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan Mutmainnah. “Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah akhirnya istri saya yang mengajak,” tandasnya.</p>
<p>Masuknya Yahya ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya. “Tapi cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain,” pungkasnya.***</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Utama&amp;id=40935">http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Utama&amp;id=40935</a><br />
<a href="http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=425" title="muallaf.com" target="_blank">http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=425</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/awansx.wordpress.com/72/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/awansx.wordpress.com/72/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/awansx.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/awansx.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/awansx.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/awansx.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/awansx.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/awansx.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/awansx.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/awansx.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/awansx.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/awansx.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=72&subd=awansx&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://awansx.wordpress.com/2007/06/15/yahya-yopie-dan-keluarganya-mantan-pendeta-yang-memeluk-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>59</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b36ffe42a4e10241db2bfdb385591653?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mualaf.com/images/topics/mualaf.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Kisah Mualaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dan Jessica pun berSyahadat menerima Islam</title>
		<link>http://awansx.wordpress.com/2006/11/17/dan-jessica-pun-bersyahadat-menerima-islam/</link>
		<comments>http://awansx.wordpress.com/2006/11/17/dan-jessica-pun-bersyahadat-menerima-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Nov 2006 10:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhwan.wordpress.com/2006/11/17/dan-jessica-pun-bersyahadat-menerima-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Hari Sabtu, 14 Oktober lalu, dilakukan buka puasa dengan mengundang tetangga-tetangga non Muslim di Jamaica Muslim Center, salah satu mesjid yang saya pimpin di kota dunia ini. Acara ini kami namai “Open House Iftar”. Memang unik, karenanya asumsinya buka puasa itu adalah mengakhiri puasa yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Tapi sore itu, justeru hadir bersama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=29&subd=awansx&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;new_topic=3"><img src="http://mualaf.com/images/topics/mualaf.gif" alt="Kisah Mualaf" align="left" border="0" /></a><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Hari Sabtu, 14 Oktober lalu, dilakukan buka puasa dengan mengundang tetangga-tetangga non Muslim di Jamaica Muslim Center, salah satu mesjid yang saya pimpin di kota dunia ini. Acara ini kami namai “O<em>pen House Iftar</em>”. Memang unik, karenanya asumsinya buka puasa itu adalah mengakhiri puasa yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Tapi sore itu, justeru hadir bersama di antara lima ratusan Muslimin di Jamaica Muslim Center puluhan non Muslim dari kalangan tetangga.</font></font><font color="#035d8a" size="1"></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Menjelang buka puasa itu saya tiba-tiba saya dikejutkan oleh seorang murid saya yang baru masuk Islam seminggu menjelang bulan puasa. Namanya Carissa Hansen. Beliau yang telah saya ceritakan proses Islamnya terakhir kali. Bersama beliau juga datang seorang gadis belia yang nampak sangat muda. Dengan jilbabnya rapih, saya menyangka dia seorang gadis Libanon atau Palestina.</font></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Setelah menyampaikan ucapan selamat datang, gadis tersebut memperkenalkan diri dengan malu-malu. “<em>Hi, I am Jessica</em>”. Tentu dengan ramah saya balas sapaannya dengan “<em>Hi, how are you? Welcome to our event!”.</em></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Tiba-tiba saja Carissa menyelah bahwa Jessica ini ingin sekali tahu Islam. Rupanya Jessica bekerja merawat orang-orang “handicapped” (cacat) di kota New York. Dalam salah satu kelas khusus bagi orang-orang cacat inilah, Jessica bertemu dengan Carissa yang baru sekitar 2 minggu masuk islam. Carissa yang memang bersemangat itu menjelaskan kepadanya siapa dia dan Islam yang dianutnya.\</font></font></p>
<p><span id="more-29"></span></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Setelah berkenalan beberapa saat saya ketahui kemudian bahwa Jessica ini berayah seorang Muslim keturunan Suriah tapi beribu Spanyol. Namun demikian, selama hidupnya belum pernah belajar Islam. Menurutnya, ayahnya memang orang Suriah tapi dia tidak pernah mengajarnya bahasa Arab (barangkali dimaksudnya Islam). Bahkan (maaf) dia menggelari ayahnya “Cassinova”, yang awalnya saya sendiri tidak tahu artinya. Ternyata dia menjelaskan bahwa “cassinova man” itu adalah seseorang yang “<em>dating many women at the same time”.</em> Menurut Jessica lagi, ayahnya kini sakit keras. Punya lima anak dari 5 ibu yang berbeda.</font></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Oleh karena memang ayahnya tidak melakukan ajaran agama, apalagi mengajarkan anaknya agama Islam, Jessica sendiri merasa lebih Katolik mengikuti agama ibunya. Oleh karenanya, walaupun tidak ke gereja, dia merasa ada ikatan dengan agama Katolik ibunya.</font></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Sore itu, setelah bertanya beberapa hal, tiba-tiba saja dia menyelah “<em>I think this is the right religion to follow”.</em></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Saya kemudian menjelaskan lebih detail mengenai islam dan dasar-dasar Iman. Alhamdulillah, bersamaan dengan acara buka puasa hari itu saya tuntun Jessica mengucapkan syahadah “<em>Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasulullah</em>” diringi pekik takbir kaum Muslimin yang sedang mencicipi buka puasa.</font></font></p>
<p><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2"><br />
</font></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Beberapa hari kemudian saya tanya “did you tell your family regarding your Islam? “ Dian menjawab “not yet, but studying doing my prayer secretly”. Ketika saya tanya apakah Bapaknya juga belum tahu kalau dia Muslim? Dia mengatakan bahwa “my father does not want to know that”. Saya tanya kenapa? Dia bilang “If he knows he will be embarrassed being a Muslim but never told us about his religion”. Saya hanya mengatakan “astaghfirullah”.</font></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Kini Jessica rajin mengikuti acara-acara ceramah atau pengajian saya. Pada hari Raya yang lalu Jessica ikut kami sekeluarga keliling silaturrahim ke berbagai rumah. Begitu senangnya hingga berkata: “I never experienced such a wonderful day”.</font></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Jessica termasuk anak yang gagal sekolahnya. Ketika berumur 16 tahun terpaksa menikah karena hubungannya dengan seorang pemuda. Dia tidak menamatkan SMA sekalipun. Setelah menikah ternyata dia menjadi bulan-bulanan suami yang pemabuk dan bahkan pengkonsumsi narkoba. Perkawinan itupun tidak berumur panjang. Sejak itu pula, ayah Jessica mengalami penyakit jantung kronis dan kesehatannya semakin menurun. Maka dengan sendirinya hanya ibunyalah yang mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Inilah yang mendorong Jessica kemudian untuk bekerja membantu sang ibu.</font></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Kini Jessica bertekad untuk kembali belajar dan bercita-cita untuk menjadi perawat. Alasannya karena dia senang membantu orang lain. Dua hari lalu Jessica menelpon saya memberitahu bahwa dia berjuang untuk shalat di rumahnya. “I feel it’s not clean, and my brother is laughing at me when he sees me doing it”. Saya terkejut karena saya kira Islamnya masih dirahasiakan. Ternyata menurutnya, semua sudah tahu kecuali ayahnya. Dia masih sungkan memberi tahu ayahnya karena menurutnya jangan sampai tersinggung sedangkan dia sekarang ini sakit keras.</font></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Saya ingatkan Jessica “jika kamu berhasil menyadarkan ayahmu sebelum meninggal, maka itu pemberian yang paling berharga dari seorang anak kepada seorang ayahnya”. Jessica hanya tersenyum secara berucap “I hope so. Pray for me!”</font></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Semoga Allah selalu menunjuki jalanmu Jessica!</font></font></p>
<p><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">New York, November 2, 2006<em>, </em><strong>M. Syamsi Ali, </strong><em>Penulis, adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. </em> <em> yang juga  penulis rubrik &#8220;Kabar Dari New York&#8221; di www.hidayatullah.com</em></font></font></p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=408" title="muallaf.com" target="_blank">http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=408</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/awansx.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/awansx.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/awansx.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/awansx.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/awansx.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/awansx.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/awansx.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/awansx.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/awansx.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/awansx.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/awansx.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/awansx.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=29&subd=awansx&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://awansx.wordpress.com/2006/11/17/dan-jessica-pun-bersyahadat-menerima-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b36ffe42a4e10241db2bfdb385591653?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mualaf.com/images/topics/mualaf.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Kisah Mualaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>A China Town Lady</title>
		<link>http://awansx.wordpress.com/2006/10/24/a-china-town-lady/</link>
		<comments>http://awansx.wordpress.com/2006/10/24/a-china-town-lady/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Oct 2006 10:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhwan.wordpress.com/2006/10/24/a-china-town-lady/</guid>
		<description><![CDATA[
 Senin akhir bulan Oktober 2006, usai mengikuti ceramah, profesor Antropologi di City College, sebuah universitas negeri kota New York itu menyatakan memeluk Islam.
Pertama kali wanita ini datang ke kelas Islamic Forum for non Muslims (Forum Islam untuk non-Muslim) saya sangka sekadar iseng. Dia datang tapi hanya duduk sebentar, lalu meninggalkan ruangan. Minggu selanjutnya datang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=17&subd=awansx&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><img src="http://mualaf.com/images/topics/mualaf.gif" alt="Kisah Mualaf" align="left" border="0" /></p>
<p> <em>Senin akhir bulan Oktober 2006, usai mengikuti ceramah, profesor Antropologi di City College, sebuah universitas negeri kota New York itu menyatakan memeluk Islam</em>.</p>
<p>Pertama kali wanita ini datang ke kelas <em>Islamic Forum for non Muslims</em> (Forum Islam untuk non-Muslim) saya sangka sekadar iseng. Dia datang tapi hanya duduk sebentar, lalu meninggalkan ruangan. Minggu selanjutnya datang lagi. Akhirnya saya bertanya padanya dalam bahasa Inggris, “Siapa Anda dan apakah tertarik belajar Islam?” Dia menjawab, “Ya, saya merasa <em>disconnection</em>.”</p>
<p align="justify">Ia mengaku <em>disconnected</em> (tidak nyambung) karena menganggap saya selalu berbicara tentang Islam dan agama lain, tapi agamanya tidak pernah disebutkan.</p>
<p>Saya baru paham bahwa ia adalah seorang penganut Budha. Sementara dalam kelas, biasanya saya lebih berkonsentrasi pada agama Kristen, Katolik, dan Yahudi.</p>
<p>Sejak itu, setiap kali dia hadir di kelas, saya selalu menyebutkan beberapa kaitan diskusi dengan agama-agama lain, termasuk Budha. Misalnya bagaimana agama Budha menitikberatkan ajarannya pada “<em>alam</em>” dan “<em>spiritual</em>”, yang sesungguhnya Islam lebih jauh memperhatikan hal-hal tersebut tapi dengan pendekatan yang balanced (imbang). Secara khusus, saya sempat memberikan hadiah sebuah buku milik Harun Yahya berjudul Islam and Budhism.</p>
<p><span id="more-17"></span>Sejak itu perhatiannya ke kelas semakin konsentrasi. Bahkan setiap kali selesai belajar, dengan sopan (adat China ) meminta agar saya bisa berbicara khusus dengannya. Anehnya, sebelum memulai pembicaraan, biasanya dia sudah meneteskan airmata.</p>
<p>“Apa yang sesungguhnya membuat Anda menangis?” tanya saya.<br />
Katanya, hatinya cenderung ke agama Islam, tapi ia mengaku terlalu banyak dosa yang telah diperbuatnya. Ia mengaku selama ini merasa menyembah <em>berhala (patung-patung)</em>&#8211;yang menurutnya&#8211; <em>unforgivable</em> (tak termaafkan) dalam Islam.</p>
<p>Rupanya ia masih terkenang dengan penjelasan saya bahwa semua dosa diampuni kecuali dosa “<strong>syirik</strong>”. Kepadanya saya jelaskan bahwa dosa syirik yang dimaksud adalah ketika sudah menjadi Muslim/Muslimah lalu tetap melakukan berbagai kesyirikan. Barulah ia merasa senang. Bahkan sejak itu, setiap kali ke kelas&#8211;dengan bahasa Inggris logat kental China —ia sangat bersemangat untuk mengajukan berbagai pertanyaan tentang masalah-masalah praktis dalam Islam, seperti shalat.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Perempuan enerjik itu bernama <strong>Eirine</strong>. Itulah nama yang selama ini saya kenal. Perempuan berpenampilan sederhana, seorang profesor Antropologi di City College , sebuah universitas negeri di up town (bagian atas) kota New York.</p>
<p>Ia mengenal Islam dari murid-muridnya yang Muslim di kolese tersebut. Bertepatan dengan malam Nuzul Al-Qur`an, di Masjid Al-Hikmah, New York &#8211;masjid yang dimiliki masyarakat Muslim asal Indonesia —tatkala itu mengadakan open house ifthar (acara buka puasa bersama) dengan tetangga-tetangga non-Muslim. Itulah yang membawa Eirine hadir dalam acara tersebut. Secara kebetulan, saat itu, saya menjelaskan kepada non-Muslim mengenai Islam. Eirine nampak serius mendengarkan.</p>
<p>Setelah berbuka puasa, saya terkejut. Tidak seperti biasa, Eirine langsung mendekati saya sebelum memberikan isyarat. Biasanya dengan mengangkat tangan atau isyarat yang lain. Setelah selesai makan kue, persis di saat akan dilaksanakan shalat Maghrib, dia mendekat dan mengatakan, “Saya piker, saya tidak lagi punya alas an untuk menundanya lebih lama.”</p>
<p>Saya tanya, “Menunda apa?”</p>
<p>Dia bilang, “Saya ingin menjadi seorang Muslimah malam ini.”</p>
<p>Dengan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, segera saya umumkan kepada jamaah yang memang membludak malam itu bahwa seorang sister akan mengucapkan dua kalimah syahadat.</p>
<p>Sebelum Maghrib, saya memintanya mengucapkan syahadat. Namun karena mengaku masih merasa gugup, saya memutuskan memberikannya waktu hingga Isya’.</p>
<p>Alhamdulillah, di hadapan jamaah shalat Isya’ Masjid Al-Hikmah, wanita China Town ini mengucapkan dua kalimah syahadat diiringi linangan airmata dan pekik takbir seluruh jamaah. Allahu akbar!</p>
<p align="center">***</p>
<p>Semenjak menjadi Imam di Islamic Center of New York sejak Desember 2001 –terutama ketika Amerika sedang dilanda phobia Islam&#8211; saya merasa ada seseorang yang bisa menjembatani antara warga Amerika dan Komunitas Muslim.</p>
<p>Tentu saja sudah kehendak Allah, setelah 11 September, antusias masyarakat Amerika untuk tahu Islam sangat luar biasa. Saya tidak bisa menyebutkan berapa, tapi yang terdaftar setiap tahunnya, tidak kurang dari 130-an orang yang masuk Islam. Mungkin bisa dikali 5 tahun.</p>
<p>Sekitar 2-3 orang perminggu yang masuk Islam. Tidak jarang secara berombongan setelah shalat Jum&#8217;at. Pernah saya mengislamkan 8 orang sekaligus dalam sebuah acara Jum&#8217;at an di Islamic Center. Harap tau, banyak warga non-Muslim menonton acara Jum&#8217;at an, sehingga setelah mendengar khutbah mereka biasanya tertarik pada Islam. Ada yang langsung, ada pula yang meminta informasi di mana bisa belajar lebih lanjut.</p>
<p>Banyak yang bertanya, femomena apakah ini? Setahu saya, hanya dua. Pertama, memang orang Amerika itu senang mencari. Kedua, memang ajaran ini (Islam) sangat menarik. Terutama pasca 11 September semakin membuka pintu itu karena Islam diekspos sedemikain rupa oleh media massa AS. Alhamdulillah, meski 11 September menyisahkan kepahitan kaum Muslim, tapi manisnya bisa pula kita rasakan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Senin akhir bulan Oktober 2006 lalu, Eirine menyempatkan diri mengikuti ceramah saya tentang “Why Al-Qur’an?” di Pace University. Di universitas ini beberapa waktu lalu ditemukan Al-Qur`an di WC dua kali, dan sempat menjadi berita besar. Oleh karena itu, <em>Muslim Students Association</em> menggelar forum publik untuk menjelaskan kepada komunitas Pace University tentang Al-Qur`an dan kenapa Al-Qur`an itu begitu disucikan.</p>
<p>Saat itu Eirine hadir sudah lengkap dengan menggunakan penutup kepalanya. Bu Prof, selamat dan doa kami menyertai!</p>
<p>New York , 5 November 2006, <em>Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik &#8220;Kabar Dari New York&#8221; di <a href="http://www.hidayatullah.com%3c/i%3E" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sumber:</p>
<p align="justify"><a href="http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=413" title="muallaf.com" target="_blank">http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=413</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/awansx.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/awansx.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/awansx.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/awansx.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/awansx.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/awansx.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/awansx.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/awansx.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/awansx.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/awansx.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/awansx.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/awansx.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=17&subd=awansx&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://awansx.wordpress.com/2006/10/24/a-china-town-lady/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b36ffe42a4e10241db2bfdb385591653?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mualaf.com/images/topics/mualaf.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Kisah Mualaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mr. Toshiro Kobi mendapat hidayah Allah SWT</title>
		<link>http://awansx.wordpress.com/2006/10/10/mr-toshiro-kobi-mendapat-hidayah-allah-swt/</link>
		<comments>http://awansx.wordpress.com/2006/10/10/mr-toshiro-kobi-mendapat-hidayah-allah-swt/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Oct 2006 10:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Muallaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kristologi]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhwan.wordpress.com/2006/10/10/mr-toshiro-kobi-mendapat-hidayah-allah-swt/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, telah kembali kepada islam, Presiden Direktur Pengelola Kawasan MM 2100 Mr. Toshihiro Kobi. Beliau masuk islam dihadapan Ketua MPR DR. Hidayat Nur Wahid, MA., Lc. dan jamaah masjid AHM (Astra Honda Motor) plant-3.
Mr. Toshihiro Kobi ini terhitung baru menjabat sebagai Predir PT. MMID (Pengelola kawasan MM2100 Cibitung) baru kurang lebih 1 tahun, namun beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=11&subd=awansx&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://mualaf.com/modules.php?name=News&amp;new_topic=3"><img src="http://mualaf.com/images/topics/mualaf.gif" alt="Kisah Mualaf" align="left" border="0" /></a>Alhamdulillah, telah kembali kepada islam, Presiden Direktur Pengelola Kawasan MM 2100 Mr. Toshihiro Kobi. Beliau masuk islam dihadapan Ketua MPR DR. Hidayat Nur Wahid, MA., Lc. dan jamaah masjid AHM (Astra Honda Motor) plant-3.<font color="#035d8a" size="1"></font></p>
<p align="justify"><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Mr. Toshihiro Kobi ini terhitung baru menjabat sebagai Predir PT. MMID (Pengelola kawasan MM2100 Cibitung) baru kurang lebih 1 tahun, namun beliau sangat lancar berbahasa Indonesia.</font></font></p>
<p><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2"><img src="http://swaramuslim.net/images/uploads/muallaf/Toshiro_Kobi-b0.jpg" alt="image" align="left" border="0" height="136" hspace="5" width="250" />Ketertarikan Beliau terhadap Islam juga terbilang baru, menurut cerita dari yang kerja disitu. Beliau juga yang mendorong dan memberikan dukungan penuh atas pembangunan Masjid Raya Baitul Mushafa ini setelah sempat direncanakan 16 tahun yang lalu namun karena dukungan dari Managementnya kurang maka tertunda.</font></font></p>
<p><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Syahadat Beliau dilakukan di Masjid PT AHM didepan Pak Hidayat, sebelumnya Pak Hidayat melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid ini dan kemudian menjadi Khotib Jum&#8217;at di Masjid AHM.</font></font></p>
<p><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Rencana masuk Islamnya sendiri sebenarnya tidak dijadwalkan saat itu, namun ternyata Pintu Hidayah Allah datang lebih cepat menyelamatkan beliau. Sesaat setelah selesai Sholat Jum&#8217;at, melalui seorang Direkturnya yang juga Ketua Panitia Pembangunan Masjid tsb, Beliau meminta untuk segera mengucapkan Syahadat didepan Pak Hidayat.</font></font></p>
<p><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">Subhanallah, Allahuakbar, orang-orang yang hadir begitu kaget karena tentunya masuk Islamnya orang nomor 1 dikawasan dengan 100 lebih perusahaan asing (Jepang terutama) yang berada dikawasan ini tentunya menjadi sebuah nilai kondusif yang baik terhadap perkembangan Islam, ditengah-tengah gencarnya serangan terhadap Islam.</font></font></p>
<p><font color="#035d8a" size="1"><font color="#000000" size="2">KeIslaman Mr.Toshihiro Kobi ini disambut gembira oleh para Direktur beserta karyawannya serta rekan-rekan Jepangnya yang sebelumnya telah memeluk Islam.</font></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/awansx.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/awansx.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/awansx.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/awansx.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/awansx.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/awansx.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/awansx.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/awansx.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/awansx.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/awansx.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/awansx.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/awansx.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=11&subd=awansx&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://awansx.wordpress.com/2006/10/10/mr-toshiro-kobi-mendapat-hidayah-allah-swt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b36ffe42a4e10241db2bfdb385591653?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mualaf.com/images/topics/mualaf.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Kisah Mualaf</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://swaramuslim.net/images/uploads/muallaf/Toshiro_Kobi-b0.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>