<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sebuah Catatan Kecil &#187; Shiroh Nabi dan Shahabat</title>
	<atom:link href="http://awansx.wordpress.com/category/tarbiyah/shiroh/shiroh-nabi-dan-shahabat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://awansx.wordpress.com</link>
	<description>We are agree that Knowledge is FREE...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Jun 2009 05:52:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='awansx.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/1019b681f70d04eecbf78f797b2d85a9?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sebuah Catatan Kecil &#187; Shiroh Nabi dan Shahabat</title>
		<link>http://awansx.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://awansx.wordpress.com/osd.xml" title="Sebuah Catatan Kecil" />
		<item>
		<title>Kehalusan, Kelemah lembutan dan Kesabaran Rasulullah</title>
		<link>http://awansx.wordpress.com/2008/02/27/kehalusan-kelemah-lembutan-dan-kesabaran-rasulullah/</link>
		<comments>http://awansx.wordpress.com/2008/02/27/kehalusan-kelemah-lembutan-dan-kesabaran-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 12:07:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shiroh]]></category>
		<category><![CDATA[Shiroh Nabi dan Shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[shirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhwan.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Merampas dan mengambil hak orang lain dengan paksa merupakan ciri orang-orang zhalim dan jahat. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah memancangkan pondasi-pondasi keadilan dan pembelaan bagi hak setiap orang agar mendapatkan dan mengambil haknya yang dirampas. Dan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah menjalankan kaidah tersebut demi kebaikan dan semata-mata untuk jalan kebaikan dengan bimbingan karunia yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=107&subd=awansx&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Merampas dan mengambil hak orang lain dengan paksa merupakan ciri orang-orang zhalim dan jahat. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah memancangkan pondasi-pondasi keadilan dan pembelaan bagi hak setiap orang agar mendapatkan dan mengambil haknya yang dirampas. Dan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah menjalankan kaidah tersebut demi kebaikan dan semata-mata untuk jalan kebaikan dengan bimbingan karunia yang telah Allah curahkan berupa perintah dan larangan. Kita tidak perlu takut adanya kezhaliman, perampasan, pengambilan dan pelanggaran hak di rumah beliau.</p>
<p>&#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha menuturkan:<br />
<i> &#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorang pun dengan tangannya kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam tidak pernah membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah dilanggar orang, maka beliau akan membalasnya semata-mata karena Allah.&#8221;</i> (HR. Ahmad)</p>
<p>&#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha mengisahkan: &#8220;Suatu kali aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam, beliau mengenakan kain najran yang tebal pinggirannya. Kebetulan beliau berpapasan dengan seorang Arab badui, tiba-tiba si Arab badui tadi menarik dengan keras kain beliau itu, sehingga aku dapat melihat bekas tarikan itu pada leher beliau. ternyata tarikan tadi begitu keras sehingga ujung kain yang tebal itu membekas di leher beliau. Si Arab badui itu berkata: &#8220;Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian yang kamu miliki dari harta Allah!&#8221; Beliau lantas menoleh kepadanya sambil tersenyum lalu mengabulkan permintaannya.&#8221; (Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Ketika <span id="more-107"></span>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam baru kembali dari peperangan Hunain, beberapa orang Arab badui mengikuti beliau, mereka meminta bagian kepada beliau. Mereka terus meminta sampai-sampai beliau terdesak ke sebuah pohon, sehingga jatuhlah selendang beliau, ketika itu beliau berada di atas tunggangan. Beliau lantas berkata:<br />
<i> &#8220;Kembalikanlah selendang itu kepadaku, Apakah kamu khawatir aku akan berlaku bakhil? Demi Allah, seadainya aku memiliki unta-unta yang merah sebanyak pohon &#8216;Udhah ini, niscaya akan aku bagikan kepadamu, kemudian kalian pasti tidak akan mendapatiku sebagai seorang yang bakhil, penakut lagi pendusta.&#8221; </i>(HR. Al-Baghawi di dalam kitab Syarhus Sunnah dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)</p>
<p>Merupakan bentuk tarbiyah dan ta&#8217;lim yang paling jitu dan indah adalah berlaku lemah lembut dalam segala perkara, dalam mengenal maslahat dan menolak mafsadat.</p>
<p>Kecemburuan yang dimiliki para sahabat telah mendorong mereka untuk menyanggah setiap melihat orang yang keliru dan tergelincir dalam kesalahan. Mereka memang berhak melakukan hal itu! Namun Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam yang lembut dan penyantun melarang mereka melakukan seperti itu, karena orang itu (pelaku kesalahan itu) jahil atau karena mudharat yang timbul dibalik itu lebih besar. Tentu saja, perilaku Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam lebih utama untuk diteladani.</p>
<p>Abu Hurairah radhiallahu anhu menceritakan: <i>&#8220;Suatu ketika, seorang Arab Badui buang air kecil di dalam masjid (tepatnya di sudut masjid). Orang-orang lantas berdiri untuk memukulinya. Namun Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam memerintahkan: &#8220;Biarkanlah dia, siramlah air kencingnya dengan seember atau segayung air. Sesungguhya kamu ditampilkan ke tengah-tengah umat manusia untuk memberi kemudahan bukan untuk membuat kesukaran.&#8221;</i> (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Kesabaran Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam dalam menyebarkan dakwah layak menjadi motivasi bagi kita untuk meneladaninya. Kita wajib berjalan di atas manhaj (metode) beliau di dalam berdakwah semata-mata karena Allah tanpa membela kepentingan pribadi.</p>
<p>&#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam : &#8220;<i>Apakah ada hari yang engkau rasakan lebih berat daripada hari peperangan Uhud?&#8221; </i>beliau menjawab:<br />
<i> &#8220;Aku telah mengalami berbagai peristiwa dari kaummu, yang paling berat kurasakan adalah pada hari &#8216;Aqabah, ketika aku menawarkan dakwah ini kepada Abdu Yalail bin Abdi Kalaal namun dia tidak merespon keinginanku. Akupun kembali dengan wajah kecewa. Aku terus berjalan dan baru tersadar ketika telah sampai di Qornuts Tsa&#8217;alib (sebuah gunung di kota Makkah). Aku tengadahkan wajahku, kulihat segumpal awan tengah memayungiku. Aku perhatikan dengan saksama, ternyata Malaikat Jibril alaihissalam ada di sana. Lalu ia menyeruku: &#8220;Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mendengar ucapan kaum-mu dan bantahan mereka terhadapmu. Dan aku telah mengutus malaikat pengawal gunung kepadamu supaya kamu perintahkan ia sesuai kehendakmu. Kemudian malaikat pengawal gunung itu memberi salam kepadaku lalu berkata: &#8220;Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu, dan aku adalah malaikat pengawal gunung, Allah Subhanahu wata’ala telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Sekarang, apakah yang kamu kehendaki? jika kamu menghendaki agar aku menimpakan kedua gunung ini atas mereka, niscaya aku lakukan!&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Tidak, justru aku berharap semoga Allah Subhanahu wata’ala mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah Subhanahu wata’ala semata dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.&#8221; </i>(Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Pada hari ini, sering kita lihat sebagian orang yang bersikap terburu-buru dalam berdakwah. Berharap dapat segera memetik hasil. Hanya membela kepentingan pribadi yang justru hal itu merusak dakwah dan mengotori keikhlasan. Oleh sebab itu, berapa banyak kelompok-kelompok dakwah yang gagal karena individu-individunya tidak memiliki kesabaran dan ketabahan!</p>
<p>Setelah bersabar dan berjuang selama bertahun-tahun, barulah terwujud apa yang dicita-citakan Rasulullah</p>
<p>Dalam sebuah syair disebutkan:<br />
<i> Bagaimanakah mungkin dapat diimbangi<br />
seorang insan terbaik yang hadir di muka bumi.<br />
Semua orang yang terpandang tidak akan mampu mencapai ketinggian derajatnya.<br />
Semua orang yang mulia tunduk di hadapannya.<br />
Para penguasa Timur dan Barat rendah di sisi-nya.</i></p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiallaahu anhu mengungkapkan: &#8220;Sampai sekarang masih terlintas dalam ingatanku saat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengisahkan seorang Nabi yang dipukul kaumnya hingga berdarah. Nabi tersebut mengusap darah pada wajahnya seraya berdoa:<br />
&#8220;Ya Allah, ampunilah kaumku! karena mereka kaum yang jahil.&#8221; (Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Pada suatu hari ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam tengah melayat satu jenazah, datanglah seorang Yahudi bernama Zaid bin Su&#8217;nah menemui beliau untuk menuntut utangnya. Yahudi itu menarik ujung gamis dan selendang beliau sambil memandang dengan wajah yang bengis. Dia berkata: <i>&#8220;Ya Muhammad, lunaskanlah utangmu padaku!&#8221;</i> dengan nada yang kasar. Melihat hal itu Umar Radhiallahu&#8217;anhu pun marah, ia menoleh ke arah Zaid si Yahudi sambil mendelikkan matanya seraya berkata: <i>&#8220;Hai musuh Allah, apakah engkau berani berkata dan berbuat tidak senonoh terhadap Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam di hadapanku!&#8221; </i>Demi Dzat Yang telah mengutusnya dengan membawa Al-Haq, seandainya bukan karena menghindari teguran beliau, niscaya sudah kutebas engkau dengan pedangku!&#8221;</p>
<p>Sementara Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam memperhatikan reaksi Umar radhiallaahu anhu dengan tenang. Beliau berkata:<br />
<i> &#8220;Wahai Umar, saya dan dia lebih membutuhkan perkara yang lain (nasihat). Yaitu engkau anjurkan kepadaku untuk menunaikan utangnya dengan baik, dan engkau perintahkan dia untuk menuntut utangnya dengan cara yang baik pula. Wahai umar bawalah dia dan tunaikanlah haknya serta tambahlah dengan dua puluh sha&#8217; kurma.&#8221;</i></p>
<p>Melihat Umar radhiallahu anhu menambah dua puluh sha&#8217; kurma, Zaid si Yahudi itu bertanya: <i>&#8220;Ya Umar, tambahan apakah ini</i>? Umar radhiallahu anhu menjawab: <i>&#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam memerintahkanku untuk menambahkannya sebagai ganti kemarahanmu!&#8221;</i> Si Yahudi itu berkata: <i>&#8220;Ya Umar, apakah engkau mengenalku?&#8221;</i> <i>&#8220;Tidak, lalu siapakah Anda?&#8221;</i> Umar Radhiallahu&#8217;anhu balas bertanya. <i>&#8220;Aku adalah Zaid bin Su&#8217;nah&#8221;</i> jawabnya. <i>&#8220;Apakah Zaid si pendeta itu?&#8221;</i> tanya Umar lagi. <i>&#8220;Benar!&#8221;</i> sahutnya. Umar lantas berkata: <i>&#8220;Apakah yang mendorongmu berbicara dan bertindak seperti itu terhadap Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam ?</i> Zaid menjawab: <i>&#8220;Ya Umar, tidak satupun tanda-tanda kenabian kecuali aku pasti mengenalinya melalui wajah beliau setiap kali aku memandangnya. Tinggal dua tanda yang belum aku buktikan, yaitu: apakah kesabarannya dapat memupus tindakan jahil, dan apakah tindakan jahil yang ditujukan kepadanya justru semakin menambah kemurahan hati-nya?&#8221; Dan sekarang aku telah membuktikannya. Aku bersaksi kepadamu wahai Umar, bahwa aku rela Allah Subhanahu wata’ala sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabiku. Dan Aku bersaksi kepadamu bahwa aku telah menyedekahkan sebagian hartaku untuk umat Muhammad </i>. Umar berkata: <i>&#8220;Ataukah untuk sebagian umat Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi wasallam saja? sebab hartamu tidak akan cukup untuk dibagikan kepada seluruh umat Muhammad .&#8221;</i> Zaid berkata: &#8220;<i>Ya, untuk sebagian umat Muhammad .</i> Zaid kemudian kembali menemui Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam dan menyatakan kalimat syahadat <i>&#8220;Asyhadu al Laa Ilaaha Illallaahu, wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuuluhu&#8221;</i>. Ia beriman dan membenarkan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam .&#8221; (HR. Al-Hakim dalam kitab Mustadrak dan menshahihkannya).</p>
<p>Cobalah perhatikan dialog yang panjang tersebut, sebuah pendirian dan kesudahan yang mengesankan. Semoga kita dapat meneladani junjungan kita nabi besar Muhammad . Meneladani kesabaran beliau dalam menghadapi beraneka ragam manusia. Dan dalam mendakwahi mereka dengan lemah lembut dan santun. Memberikan motivasi bila mereka berlaku baik, serta menumbuhkan rasa optimisme di dalam diri mereka.</p>
<p>&#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha menceritakan: &#8220;Suatu kali aku pergi melaksanakan umrah bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam dari kota Madinah. Ketika tiba di kota Makkah, aku berkata: &#8220;<i>Wahai Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, engkau mengqasar shalat namun aku menyempurnakan-nya, engkau tidak berpuasa justru aku yang berpuasa?&#8221;</i> beliau menjawab: <i>&#8220;Bagus, wahai &#8216;Aisyah!&#8221;</i> Beliau sama sekali tidak mencela diriku.&#8221; (HR. An-Nasaai)</p>
<p><i>Kehalusan, Kelemah lembutan dan Kesabaran Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam<br />
Disalin dari buku Sehari di Kediaman RASULULLAH SHALLALLAHU&#8217;ALAIHI WASALLAM<br />
Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim</i></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/awansx.wordpress.com/107/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/awansx.wordpress.com/107/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/awansx.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/awansx.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/awansx.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/awansx.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/awansx.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/awansx.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/awansx.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/awansx.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/awansx.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/awansx.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=107&subd=awansx&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://awansx.wordpress.com/2008/02/27/kehalusan-kelemah-lembutan-dan-kesabaran-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b36ffe42a4e10241db2bfdb385591653?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keindahan Fisik Rasulullaah</title>
		<link>http://awansx.wordpress.com/2007/11/01/keindahan-fisik-rasulullaah/</link>
		<comments>http://awansx.wordpress.com/2007/11/01/keindahan-fisik-rasulullaah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 06:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cabang Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Shiroh Nabi dan Shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[al-qiyadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ali]]></category>
		<category><![CDATA[aliran]]></category>
		<category><![CDATA[Fisik]]></category>
		<category><![CDATA[Keindahan]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[mushaddeg]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullaah]]></category>
		<category><![CDATA[sesat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhwan.wordpress.com/2007/11/01/keindahan-fisik-rasulullaah/</guid>
		<description><![CDATA[Ummu Ma&#8217;bad Al Khuza&#8217;iyah pernah berkata tentang diri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalaam. Dia menggambarkan beberapa sifat beliau di hadapan suaminya, saat beliau lewat di kemahnya dalam perjalanan hijrah ke Madinah, &#8220;Dia sangat bersih, wajahnya berseri-seri, bagus perawakannya, tidak merasa berat karena gemuk, tidak bisa dicela karena kepalanya kecil, elok dan tampan, di matanya ada warna [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=92&subd=awansx&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://img135.imageshack.us/img135/502/muhammadha2.jpg" alt="Kaligrafi" align="left" height="133" hspace="10" vspace="5" width="141" />Ummu Ma&#8217;bad Al Khuza&#8217;iyah pernah berkata tentang diri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalaam. Dia menggambarkan beberapa sifat beliau di hadapan suaminya, saat beliau lewat di kemahnya dalam perjalanan hijrah ke Madinah, &#8220;Dia sangat bersih, wajahnya berseri-seri, bagus perawakannya, tidak merasa berat karena gemuk, tidak bisa dicela karena kepalanya kecil, elok dan tampan, di matanya ada warna hitam, bulu matanya panjang, tidak mengobral bicara, lehernya panjang, matanya jelita, memakai celak mata, alisnya tipis, memanjang dan bersambung, rambutnya hitam, jika diam dia tampak berwibawa, jika berbicara dia tampak menarik, dia adalah orang paling elok dan menawan dilihat dari kejauhan, bagus dan manis setelah mendekat. Bicaranya manis, rinci, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, bicaranya seakan-akan merjan yang tertata rapi dan landai, perawakan sedang-sedang, mata yang memandang tidak lolos karena perawakannya yang pendek dan tidak sebal karena perawakannya yang tinggi. Seakan-akan satu dahan diantara dua dahan, dia adalah salah seorang dari tiga orang yang paling menarik perhatian, paling bagus tampilannya, mempunyai rekan-rekan yang menghormatinya, jika <span id="more-92"></span>dia berbicara mereka menyimak perkataannya, jika dia memberikan perintah mereka segera melaksanakannya perintahnya. Dia orang yang ditaati, disegani, dikerumuni orang-orang, wajahnya tidak memberengut dan tidak pula orang yang diremehkan.</p>
<p>Ali bin Abi Thalib juga berkata, &#8220;Beliau bukn orang yang terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, orang yang perawakannya sedang-sedang, rambutnya tidak kaku dan tidak pula keriting, rambutnya lebat, tidak gemuk dan tidak kurus, wajahnya sedikit bulat, kedua matanya sangat hitam, bulu matanya panjang, persendian-persendiannya yang pokok besar, bahunya bidang, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu-bulu di badan. telapak tangan dan kakinya tebal, jika berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun, jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah, yaitu cincin para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paling mulia pergaulannya, siapa pun yang tiba-tiba memandangnya tentu enggan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya  tentu akan mencintainya&#8221;. Kemudia dia (Ali) berbicara lagi, &#8220;Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya.&#8221;.</p>
<p>Diambil dari buku Sirah Nabawiyah<br />
Oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury</p>
<p>Coba bandingkan dengan fisik Ahmad Mushaddeq, pemimpin aliran sesat dan menyesatkan Al-Qiyadah yang jauh dari sifat-sifat nubuwah.. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/awansx.wordpress.com/92/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/awansx.wordpress.com/92/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/awansx.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/awansx.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/awansx.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/awansx.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/awansx.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/awansx.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/awansx.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/awansx.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/awansx.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/awansx.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=92&subd=awansx&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://awansx.wordpress.com/2007/11/01/keindahan-fisik-rasulullaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b36ffe42a4e10241db2bfdb385591653?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img135.imageshack.us/img135/502/muhammadha2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kaligrafi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mempertanyakan: Rasulullaah Menikahi Aisyah Umur 6 Tahun..?</title>
		<link>http://awansx.wordpress.com/2007/04/01/mempertanyakan-rasulullaah-menikahi-aisyah-umur-6-tahun/</link>
		<comments>http://awansx.wordpress.com/2007/04/01/mempertanyakan-rasulullaah-menikahi-aisyah-umur-6-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2007 02:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cabang Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Shiroh Nabi dan Shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[shirah nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhwan.wordpress.com/2007/04/01/mempertanyakan-rasulullaah-menikahi-aisyah-umur-6-tahun/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel berikut saya temukan di forum myquran.org sekitar 3 tahun yang lalu. Baru-baru ini saya teringat kembali mengenai artikel ini ketika saya mengikuti kajian Fiqh Sunnah atau khutbah Jum&#8217;at yang mengulas masalah pernikahan Rasulullah.
Mungkin ini adalah sebuah kontroversi, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa hanya Qur&#8217;an-lah kitab yang benar dan bahwa kitab hadits se-shahih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=46&subd=awansx&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Artikel berikut saya temukan di forum <a title="Komunitas Muslim Indonesia" href="http://www.myquran.org" target="_blank">myquran.org </a>sekitar 3 tahun yang lalu. Baru-baru ini saya teringat kembali mengenai artikel ini ketika saya mengikuti kajian Fiqh Sunnah atau khutbah Jum&#8217;at yang mengulas masalah pernikahan Rasulullah.</p>
<p>Mungkin ini adalah sebuah kontroversi, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa hanya Qur&#8217;an-lah kitab yang benar dan bahwa kitab hadits se-shahih apapun masih masih terdapat kontradiksi dan layak untuk ditelaah ulang. Sedih rasanya ketika seorang lebih mengedepankan &#8220;kitab&#8221; hadits daripada Al-Qur&#8217;an seolah-olah &#8220;kitab lain&#8221; itu selalu benar&#8230;</p>
<p>=================================================</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Seorang teman kristen suatu kali bertanya ke saya,<em> ”Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?”</em> Saya terdiam. Dia melanjutkan,<em>” Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?”</em> Saya katakan padanya,<em>” Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.”</em> Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya. Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, Orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-46"></span><span style="font-family:Verdana;">Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya.Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti. Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Bagaimanapun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah thd orang tua dan suami tua tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur dibawah 18 tahun, dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi-oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya thd Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyanm ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">BUKTI #1: PENGUJIAN THD SUMBER</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya, Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : <em>” Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” </em>(Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al-`asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orangIraq: <em>” Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq”</em> Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Mizanu’l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: <em>“Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok”</em> (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"><strong>KESIMPULAN</strong>: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindha ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">KRONOLOGI</span></strong><span style="font-family:Verdana;">: Adalah vital untuk mencatat dan mengingattanggal penting dalam sejarah Islam: </span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Verdana;">pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">610 M: turun wahyu pertama AbuBakr menerima Islam<span> </span></span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">615 M: Hijrah ke Abyssinia. </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam. </span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;">623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">BUKTI #2: MEMINANG</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: <em>“Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya ”</em> (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur <strong>14 tahun</strong> ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">KESIMPULAN</span></strong><span style="font-family:Verdana;">: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.</span><br />
<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Menurut Ibn Hajar, <em>“Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ”</em> (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah <strong>12 tahun</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">KESIMPULAN</span></strong><span style="font-family:Verdana;">: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.</span><br />
<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: <em>“Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah </em>(Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Menurut Ibn Kathir: <em>“Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” </em>(Al-Bidayah wa’l-nihayah, IbnKathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Menurut Ibn Kathir: <em>“Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” </em>(Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: <em>“Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.”</em> (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah <strong>19 atau 20 tahun</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">KESIMPULAN</span></strong><span style="font-family:Verdana;">: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: <em>“ketika kita mencapai Shajarah”.</em> Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): <em>“Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): <em>“Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Berdasarkan riwayat diatas, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">(a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">(b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"><strong>KESIMPULAN</strong>: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: <em>“Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)”</em> ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih <span> </span>suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia <strong>14-21 tahun</strong> ketika dinikah Nabi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">KESIMPULAN</span></strong><span style="font-family:Verdana;">: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “<em>Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”.</em> Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”. Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah <em>“wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.”</em> Oleh karena itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">BUKTI #8. Text Qur’an</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat , yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid doaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"><em>Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.</em> (Qs. 4:5) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"><em>Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.</em> ?? (Qs. 4:6) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Dalam hal seorang anak yang ditinggal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">(a) memberi makan mereka, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">(b) memberi pakaian, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">(c) mendidik mereka, dan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">(d) menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Disini, ayat Qur’an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambil tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk empercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,<em>” berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?”</em> Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">AbuBakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karean itu menentang hukum-hukum Quran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Adalah tidak terbayangkan bahwa AbuBakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis 7 tahun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">(anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">KESIMPULAN</span></strong><span style="font-family:Verdana;">: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Verdana;">SUMMARY</span></strong><span style="font-family:Verdana;">:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernha keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di<span> </span>Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karean adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Oleh karean itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">sumber :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">The Ancient Myth Exposed </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">By T.O. Shanavas , di Michigan. © 2001 Minaret </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">from The Minaret Source: http://www.iiie.net/</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">sumber artikel:  <a title="Islamdotnet" href="http://www.islamdotnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=200&amp;Itemid=43" target="_blank">Islamdotnet.com</a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Baca juga: <a title="Islamiyah.wordpress.com" href="http://islamiyah.wordpress.com/2007/03/25/telaah-kritis-usia-aisyah-ra/#more-42" target="_blank">Islamiyah.wordpress.com </a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/awansx.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/awansx.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/awansx.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/awansx.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/awansx.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/awansx.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/awansx.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/awansx.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/awansx.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/awansx.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/awansx.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/awansx.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=46&subd=awansx&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://awansx.wordpress.com/2007/04/01/mempertanyakan-rasulullaah-menikahi-aisyah-umur-6-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b36ffe42a4e10241db2bfdb385591653?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RINGKASAN KEUTAMAAN ‘ALI BIN ABI THALIB RA.</title>
		<link>http://awansx.wordpress.com/2007/01/15/ringkasan-keutamaan-%e2%80%98ali-bin-abi-thalib-ra/</link>
		<comments>http://awansx.wordpress.com/2007/01/15/ringkasan-keutamaan-%e2%80%98ali-bin-abi-thalib-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jan 2007 16:31:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cabang Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Shiroh Nabi dan Shahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhwan.wordpress.com/2007/01/15/ringkasan-keutamaan-%e2%80%98ali-bin-abi-thalib-ra/</guid>
		<description><![CDATA[Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata, bahwa RasuluLlah saw. bersabda kepada ‘Ali ra:
“Engkau dari aku dan aku dari kamu.” (HR. Bukhari)
RINGKASAN KEUTAMAAN ‘ALI BIN ABI THALIB RA.
Nama beliau ra. adalah ’Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib (namanya Syaibah) bin Hasyim (namanya ’Amr) bin Abdu Manaf (namanya Mughirah) bin Qushay (nama aslinya Zaid) bin Kilab bin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=36&subd=awansx&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata, bahwa RasuluLlah saw. bersabda kepada ‘Ali ra:<br />
<em>“Engkau dari aku dan aku dari kamu.”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>RINGKASAN KEUTAMAAN ‘ALI BIN ABI THALIB RA.</strong></p>
<p>Nama beliau ra. adalah ’Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib (namanya Syaibah) bin Hasyim (namanya ’Amr) bin Abdu Manaf (namanya Mughirah) bin Qushay (nama aslinya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah. Beliau ra. dipanggil Abul Husein dan Abu Turab oleh RasuluLlah saw.</p>
<p>Beliau ra. suami dari Fathimah ra., penghulu wanita sedunia, puteri RasuluLlah saw., sehingga ‘Ali ra. adalah juga menantu dari RasuluLlah saw. ‘Ali ra. adalah juga sepupu RasuluLlah saw., putera paman RasuluLlah saw., Abi Thalib, sehingga ‘Ali ra. merupakan Ahlul Bait RasuluLlah saw. Putera-puteri ’Ali ra. dari Fathimah ra. adalah: Al-Hassan ra., Al-Husein ra. (keduanya adalah penghulu pemuda penduduk Surga), Ruqayah ra., Ummu Kultsum ra. (kedua puteri tsb, sama dengan nama 2 kakak Fathimah ra.). ’Ali ra. juga memiliki putera dari seorang isteri wanita Bani Hanifah (setelah Fathimah ra. wafat), bernama Muhammad (bin) Al-Hanafiyah (demikian beliau dipanggil), seorang Tabi’in besar.</p>
<p>Ibunda ’Ali ra. adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim, seorang wanita Bani Hasyim yang melahirkan seorang Bani Hasyim. <span id="more-36"></span>Beliau ra. (ibunda ’Ali ra.) masuk Islam dan hijrah. ’Ali ra. sendiri termasuk salah seorang dari 10 sahabat ra. yang dijamin masuk surga.</p>
<p><strong>BEBERAPA KEUTAMAAN ‘ALI RA.</strong><br />
‘Ali ra. adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anak-anak. Sebagian riwayat mengatakan bahwa saat masuk Islam, beliau ra. baru berumur 10 tahun. Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad bahwa Al-Hassan bin Zaid bin Al-Hassan berkata: “‘Ali tidak pernah menyembah berhala sama sekali karena dia memang masih kecil.”</p>
<p>Saat hijrah RasuluLlah saw, ’Ali ra. dengan penuh keberanian, tidur di atas tempat tidur RasuluLlah saw., sehingga para pengepung mengira RasuluLlah saw. masih di dalam rumah, sedang beliau saw. telah meninggalkan rumah tsb.</p>
<p>‘Ali adalah salah satu dari 3 orang sahabat ra. yang melakukan perang tanding satu lawan satu melawan 3 tokoh kafir Quraisy saat Perang Badar. ‘Ali ra. berkata: ‘Utbah bin Rabiah (dari Kafir Quraisy, pen.) maju diikuti putra (Al-Walid, pen.) dan saudaranya (Syaibah, pen.). Ia berseru: ‘Siapa mau bertarung?’ Kemudian ditampilkan kepadanya seorang pemuda Anshar. Ia bertanya: ‘Siapa kamu?’ Maka mereka mengabarinya. ‘Utbah berkata: ‘Kami tidak membutuhkan kamu, tetapi kami inginkan putera-putera paman kami.’ Kemudian RasuluLlah saw. bersabda: <em>”Berdirilah, hai Hamzah! Majulah, hai ’Ali! Majulah hai ’Ubaidah bin Harits!”</em> Kemudian Hamzah ra. menghadapi ’Utbah (dan berhasil membunuhnya, pen.) dan aku menghadapi Syaibah (dan membunuhnya, pen.). ’Ubaidah dan Al-Walid saling menyerang. Masing-masing saling melukai lawannya. Kemudian kami menyerang Al-Walid dan membunuhnya dan kami bawa ’Ubaidah.” (HR. Abu Daud)</p>
<p>Abu Dzar ra. bersumpah, kalau ayat:<br />
<strong><em>“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka&#8230;“</em> (Q. S. Al-Hajj : 19)</strong></p>
<p>Turun mengenai orang-orang yang bertarung dalam Perang Badar; “Hamzah, ’Ali, ’Ubaidah ibnul Harits, ’Utbah bin Rabiah dan Syaibah bin Rabi’ah serta Al-Walid bin ’Utbah.“ (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, dia berkata bahwa RasuluLlah saw. bersabda pada Perang Khaibar: <em>“Saya sungguh-sungguh akan berikan bendera perang esok hari kepada orang yang dengannya Khaibar akan dibuka dan dia mencintai Allah dan Rasul Nya, sebagaimana Allah dan Rasul Nya mencintainya.”</em> Malam itu para sahabat ramai membincangkan siapa yang akan mendapat kehormatan untuk mendapatkan bendera perang itu. Tatkala pagi menjelang, para sahabat segera menemui RasuluLlah saw. Semuanya berharap semoga bendera itu diberikan kepadanya. Lalu RasuluLlah saw. berkata: <em>“Di mana ‘Ali?”</em> Orang yang hadir saat itu berkata: “Dia sedang sakit mata.” RasuluLlah saw. bersabda: <em>“Datangkan dia ke sini!”</em> Lalu para sahabat ra. menjemputnya untuk menghadap RasuluLlah saw. ‘Ali ra. datang menemui RasuluLlah saw., dan RasuluLlah saw. menyemburkan ludah kepada kedua matanya dan berdoa. Dan sembuhlah kedua mata ‘Ali seakan-akan dia tidak pernah merasa sakit. Lalu RasuluLlah saw. serahkan bendera itu kepadanya.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir bahwa Jabir bin ‘AbduLlah berkata: Pada saat perang Khaibar, ‘Ali mampu menjebol pintu Khaibar sendirian, hingga akhirnya kaum muslimin mampu masuk ke dalam benteng dan menaklukkan musuh-musuhnya. Lalu mereka menarik pintunya dan pintu tersebut tidak mampu ditarik kecuali oleh 40 orang.</p>
<p>‘Ali ra. mengikuti semua perang yang diikuti oleh RasuluLlah saw., kecuali Perang Tabuk. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. bahwa RasuluLlah saw. memerintahkan ‘Ali ra. untuk menggantikan beliau saw. sementara di Madinah pada saat kaum muslimin akan menuju Perang Tabuk. ‘Ali ra. saat itu berkata: “Engkau tempatkan aku bersama para wanita dan anak-anak di Madinah?” RasuluLlah saw. bersabda: <em>“Tidakkah engkau rela menjadi laksana Harun di samping Musa di sisiku? Hanya saja memang tidak ada Nabi setelahku.”</em></p>
<p>Imam Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. dia berkata: Tatkala turun ayat:<br />
<strong><em>“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): &#8220;Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la&#8217;nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta&#8221;.”</em> (Q. S. Ali ‘Imraan : 61)</strong></p>
<p>Beliau saw. memanggil ‘Ali, Fathimah, Hassan , Husein (radhiyaLlahu ‘anhum) lalu berkata: <em>“Ya Allah, mereka adalah keluargaku.”</em></p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Ali ra., dia berkata: “Demi Dzat Yang Membelah biji-bijian dan Menciptakan makhluk yang bernyawa, sesungguhnya RasuluLlah yang ummi (Muhammad saw.) mengatakan kepada saya bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali seorang mukmin dan tidak ada yang membenciku kecuali seorang munafik.” Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits serupa dari Said Al-Khudri, dia berkata: Kami mengetahui seorang munafik dari kebencian mereka kepada ‘Ali bin Abi Thalib (ra.).</p>
<p>Imam Ath-Thabarani dengan isnad shahih meriwayatkan dari Ummu Salamah ra. dari RasuluLlah saw, beliau saw. bersabda:<br />
<em>“Barangsiapa mencintai ‘Ali, maka dia berarti mencintai saya, dan siapa yang mencintai saya, berarti dia mencintai Allah. Barangsiapa membenci ‘Ali, berarti dia membenci saya dan barangsiapa yang membenci saya berarti dia membenci Allah.”</em></p>
<p>Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata, bahwa RasuluLlah saw. bersabda kepada ‘Ali ra: <em>“Engkau dari aku dan aku dari kamu.”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata: Beberapa orang mengeluh tentang ‘Ali. Maka berdirilah RasuluLlah saw. seraya berkata di depan publik:<br />
<em>“Janganlah kalian mengeluhkan tentang ‘Ali, sesungguhnya dia adalah orang yang paling takut kepada Allah, dan paling berani dalam jihad di Jalan Allah.”</em></p>
<p>Al-Bazzar, Abu Ya’la dan Al-Hakim meriwayatkan dari ‘Ali ra., dia berkata, RasuluLlah saw. memanggil saya lalu berkata:<br />
<em>“Wahai ‘Ali, sesungguhnya dalam dirimu ada sesuatu yang menyerupai ‘Isa, dia dibenci orang Yahudi hingga mereka melecehkan ibunya, dan dicintai oleh orang-orang Nashrani hingga mereka mendudukkannya pada posisi yang tidak benar. Ketahuilah, sesungguhnya ada dua golongan yang akan hancur karena perlakuan mereka terhadapmu: Golongan yang berlebih-lebihan dalam mencintaimu hingga mereka mendudukannmu pada posisi yang tidak benar, dan golongan yang membencimu dengan keterlaluan hingga mereka melecehkanmu.”</em></p>
<p>RasuluLlah saw. mengutus ‘Ali ke Yaman. Maka ia (’Ali ra., pen.) berkata: ”Wahai RasuluLlah, engkau utus diriku kepaa suatu kaum yang lebih tua dariku supaya aku putuskan perkara di antara mereka.” Nabi saw. berkata: <em>”Pergilah, karena Allah Ta’ala akan meneguhkan lisanmu dan memberi petunjuk kepada hatimu!”</em> (HR. Ahmad)</p>
<p>Al-Hakim meriwayatkan dari ‘AbduLlah bin Mas’ud dia berkata: Kami sama-sama mengatakan bahwa penduduk Madinah yang paling pandai dalam memutuskan perkara adalah ‘Ali (ra.).</p>
<p>Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Sa’id bin Musayyib dia berkata: ‘Umar bin Khaththab ra. selalu memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan dalam memutuskan perkara sulit jika saat itu ‘Ali ra. tidak hadir.</p>
<p><strong>KEKHILAFAHAN ‘ALI RA.</strong><br />
Setelah ‘Utsman ra. syahid, ‘Ali ra. diangkat menjadi khalifah ke-4. Awalnya beliau ra. menolak, namun akhirnya beliau ra. menerimanya. Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Muhammad bin Al-Hanafiyah berkata: &#8230;..Sementara orang banyak datang di belakangnya dan menggedor pintu dan segera memasuki rumah itu. Kata mereka: &#8220;Beliau (‘Utsman ra.) telah terbunuh, sementara rakyat harus punya khalifah, dan kami tidak mengetahui orang yang paling berhak untuk itu kecuali anda (‘Ali ra.)&#8221;. ‘Ali ra. berkata kepada mereka: &#8220;Janganlah kalian mengharapkan saya, karena saya lebih senang menjadi wazir (pembantu) bagi kalian daripada menjadi Amir&#8221;. Mereka menjawab: &#8220;Tidak, demi Allah, kami tidak mengetahui ada orang yang lebih berhak menjadi khalifah daripada engkau&#8221;. ‘Ali ra. menjawab: &#8220;Jika kalian tak menerima pendapatku dan tetap ingin membaiatku, maka baiat tersebut hendaknya tidak bersifat rahasia, tetapi aku akan pergi ke masjid, maka siapa yang bermaksud membaiatku maka berbaiatlah kepadaku&#8221;. Pergilah ‘Ali ra. ke masjid dan orang-orang berbaiat kepadanya.</p>
<p>Dalam Tarikh Al-Ya’qubi dikatakan: ‘Ali bin Abi Thalib (ra.) menggantikan ‘Utsman sebagai khalifah&#8230; dan dia (ra.) dibaiat oleh Thalhah (ra.), Zubair (ra.), Kaum Muhajirin dan Anshar (radhiyaLlahu ‘anhum). Sedangkan orang yang pertama kali membaiat dan menjabat tangannya adalah Thalhah bin ‘Ubaidillah (ra.).</p>
<p>Imam Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzy mentakhrij hadits berasal dari Safinah ra., ia berkata: Aku mendengar RasuluLlah saw. bersabda:<br />
<em>“Kekhilafahan berlangsung selama 30 tahun dan setelah itu adalah kerajaan.”</em> Safinah ra. berkata: “Mari kita hitung, Khilafah Abu Bakar ra. berlangsung 2 tahun, Khilafah ‘Umar ra. 10 tahun, Khilafah ‘Utsman ra. 12 tahun, dan Khilafah ‘Ali ra. 6 tahun.”</p>
<p>’Ali ra. bekerja keras pada masa kekhilafahannya guna mengembalikan stabilitas dalam tubuh umat setelah sebelumnya Ibnu Saba’ dan Sabaiyahnya melancarkan konspirasi dan provokasinya guna menghancurkan Islam dari dalam. Pada masa kekepemimpinan ‘Ali ra. ini, Ibnu Saba’ dan Sabaiyah nya pun kembali melancarkan konspirasi dan makar mereka, sehingga membuat keadaan menjadi semakin rumit. Diriwayatkan bahwa pada akhirnya ‘Ali ra. membakar banyak dari pengikut Sabaiyah ini dan juga mengasingkan Ibnu Saba’ ke Al-Madain.</p>
<p><strong>‘ALI RA. MEMERANGI KHAWARIJ</strong><br />
Semula orang-orang yang kelak dikenal dengan khawarij ini turut membaiat ‘Ali ra., dan ‘Ali ra. tidak menindak mereka secara langsung mengingat kondisi umat belumlah kembali stabil, di samping para pembuat makar yang berjumlah ribuan itu pun telah berbaur di Kota Madinah, hingga dapat mempengaruhi hamba sahaya dan orang-orang Badui. Jika ‘Ali ra. bersegera mengambil tindakan, maka bisa dipastikan akan terjadi pertumpahan darah dan fitnah yang tidak kunjung habisnya. Karenanya ‘Ali ra, memilih untuk menunggu waktu yang tepat, setelah kondisi keamanan kembali stabil, untuk menyelesaikan persoalan yang ada dengan menegakkan qishash.</p>
<p>Kaum khawarij sendiri pada akhirnya menyempal dari Pasukan ‘Ali ra. setelah beliau ra. melakukan tahkim dengan Mu’awiyah ra. setelah beberapa saat terjadi perbedaan ijtihad di antara mereka berdua ra. (‘Ali ra. dan Mu’awiyah ra.). Orang-orang khawarij menolak tahkim seraya mengumandangkan slogan: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Tidak boleh menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia. Demi Allah! Allah telah menghukum penzalim dengan jalan diperangi sehingga kembali ke jalan Allah.” Ungkapan mereka: ‘Tiada ada hukum kecuali hukum Allah’, dikomentari oleh Ali: “Ungkapan benar, tetapi disalahpahami. ”</p>
<p>Pada akhirnya ‘Ali ra. memerangi khawarij tsb., dan berhasil menghancurkan mereka di Nahrawan, di mana hampir seluruh dari orang Khawarij tsb berhasil dibunuh, sedangkan yang terbunuh di pihak ‘Ali ra. hanya 9 orang saja.</p>
<p>Bersabda RasuluLlah saw.:<br />
<em>“Suatu kelompok akan melepaskan diri dari komunitas umat (yaitu Khawarij, pen.) ketika terjadi pertikaian di kalangan Kaum Muslimin, yang itu akan diperangi oleh golongan yang lebih utama dengan kebenaran (awla ath-thaa-ifataini bilhaq).”</em> (HR. Muslim)</p>
<p><strong>SYAHIDNYA ‘ALI RA.</strong><br />
Dari Muhammad bin Sa’d, dari beberapa orang syaiknya, mereka berkata: “Ada 3 orang pemuka Khawarij (setelah peristiwa Nahrawan, pen.) yaitu AbdurRahman Ibnu Muljam, Al-Barak bin AbduLlah dan Amr bin Bakar At-Tamimy yang berkumpul di Makkah. Mereka berembug dan membuat kesepakatan bersama untuk membunuh tiga orang, yaitu ‘Ali ra., Mu’awiyah ra. dan ‘Amr bin Al-‘Ash ra&#8230;.” Dari tiga orang tsb, hanya Ibnu Muljam yang berhasil melaksanakan rencana busuk tersebut. ‘Ali ra. terbunuh sebagai syahid saat beliau ra. sedang keluar untuk Shalat Subuh.</p>
<p>‘Ali ra. berkata (mengenai orang yang menyerangnya -yang menyebabkan syahidnya beliau ra.): “Beri ia makanan yang baik, dan sediakan untuknya tempat tidur yang empuk. Dan apabila aku masih hidup, maka aku lebih berhak untuk menuntuk balas kepadanya dengan memberikan maaf atau qishash. Akan tetapi jika aku mati, maka susulkan ia kepadaku, dan aku akan berbantahan dengan dirinya di hadapan Rabbul ‘Alamiin.”</p>
<p>Imam Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad shahih meriwayatkan dari ‘Ammar bin Yasir bahwa RasuluLlah saw. bersabda kepada ‘Ali ra.:<br />
<em>“Manusia yang paling celaka adalah dua orang: Pembunuh unta Nabi Shaleh dari Kaum Tsamud dan orang yang memukul kepalamu hingga jenggotmu berlumuran darah karenanya.”</em></p>
<p><strong>BEBERAPA PERKATAAN HIKMAH ‘ALI RA.</strong><br />
Berkata ‘Ali ra.: “Ambillah lima nasehat dariku: Janganlah sekali-kali seseorang takut kecuali atas dosa-dosanya. Janganlah menggantungkan harapan kecuali kepada Tuhannya. Janganlah orang yang tidak berilmu merasa malu untuk belajar. Janganlah seseorang yang tidak mengerti sesuatu merasa malu untuk mengatakan “Allahu A’lam” saat dia tidak bisa menjawab suatu masalah. Sesungguhnya kedudukan sabar bagi iman laksana kedudukan kepala pada jasad. Jika kesabaran hilang, maka akan lenyap pula keimanan, dan jika kepala hilang maka tidak akan ada artinya jasad.” (Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunannya)</p>
<p>Juga diriwayatkan dari ‘Ali ra., dia berkata: “Akibat maksiat adalah lemah dalam ibadah, sempit dalam riizki, berkurang lezatnya kehidupan.” Lalu ditanyakan kepadanya, apa yang dia maksud berkurang lezatnya kehidupan. Beliau ra. menjawab: “Tidak merasakan nikmat pada yang halal, namun akhirnya dia mendapatkan yang mengakibatkan habisnya kenikmatan itu.”</p>
<p>‘Ali ra., dia berkata: “Dua hal yang paling kutakuti atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Angan-angan yang panjang dapat melalaikan akhirat, sedang mengikuti hawa nafsu dapat menghalangi seseorang dari kebenaran. Ingatlah, sesungguhnya dunia ini akan ditinggalkan dan akan datang penggantinya. Masing-masing, diantara dunia dan akhirat memiliki anak. Jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia, karena hari ini (dunia) ada amal dan tidak ada hisab, sedangkan hari esok (akhirat) ada hisab dan tidak ada lagi amal.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)</p>
<p>Dikutip, diringkas dan disusun kembali oleh PIP PKS ANZ wil. NSW dari:<br />
Tarikh Khulafa’ (Imam Suyuthi), Jejak Para Tabi’in (AbdurRahman Ra’fat Basya), Ramalan-Ramalan RasuluLlah saw. (An-Nadwi), Terjemah ’Tahqiq Mawaqif al-Shahabah fil Fitnah’ (Muhammad Amhazun), Kelompok Parsial dalam Memahami Aqidah (Hidayat Nurwahid), Keutamaan Para Sahabat Nabi Saw. (Mustafa Al-‘Adawi), Zuhud (Imam Ahmad), Terjemah ‘Talbis Iblis’ (Ibnul Jauzy)</p>
<p><strong>( YP | PIPPKS-ANZ | www.pks-anz.org )</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><a href="http://www.pks-anz.org/modules.php?op=modload&amp;name=News&amp;file=article&amp;sid=917&amp;mode=thread&amp;order=0&amp;thold=0" title="Ringkasan Keutamaan Ali Bin Abi Thalib ra" target="_blank">http://www.pks-anz.org/</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/awansx.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/awansx.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/awansx.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/awansx.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/awansx.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/awansx.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/awansx.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/awansx.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/awansx.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/awansx.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/awansx.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/awansx.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=awansx.wordpress.com&blog=4451170&post=36&subd=awansx&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://awansx.wordpress.com/2007/01/15/ringkasan-keutamaan-%e2%80%98ali-bin-abi-thalib-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b36ffe42a4e10241db2bfdb385591653?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>